Tak ada yang menduga ketika seorang penggembala sapi bahkan pembantu penjual pisang goreng dan penjual es lilin di sekolah, kini menjadi seorang Bupati? Ya, dialah Hermus Indou, yang saat ini menjadi Bupati Kabupaten Manokwari periode 2021-2024. “Saat masih kecil dulu, saya menjadi penggembala sapi, juga menjadi tukang pegang termos air panas dari penjual pisang goreng yang menjual es lilin di SMP Negeri Warmare,” cerita Bupati Manokwari, Hermus Indou tentang masa kecilnya. Tak hanya itu, ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Manokwari, Hermus Indou menjadi pesuruh dari teman-teman sekolahnya untuk membeli sesuatu di luar sekolah. “Saya biasa disuruh teman-teman untuk beli pisang goreng. Setelah beli pisang goreng itu, saya juga dapat jatah, sehingga bisa makan pisang goreng juga,” kenangnya. Hal ini dilakukan Hermus Indou muda, agar dirinya tidak kelaparan di sekolah. Karena pada masa itu, adalah masa-masa yang sangat sulit baginya untuk mendapatkan ua...
Pada pameran pariwisata Internasional yang berlangsung di Berlin- Jerman ini, tim dari Papua merupakan yang terbesar, yakni 50 orang, terdiri dari utusan Kabupaten Sarmi sebanyak 11 orang, Kabupaten Pegunungan Bintang sebanyak 30 orang dan Provinsi Papua sebanyak 9 orang. Apa saja yang dilakukan delegasi asal Provinsi tertimur Indonesia ini?
Laporan : Alberth Yomo- Berlin
Dengan menggunakan maskapai penerbangan Turkish Airlines, tim asal Papua ini berangkat dari bandara internasional Soekarno Hatta pukul 19.30 WIB menuju Berlin, dengan melakukan transit di bandara internasional Singapura dan bandara internasional Turki, tim asal Papua ini akhirnya tiba di bandara internasional Tegel-Berlin pada Selasa, 6 Maret pukul 11.00 waktu setempat ( berlin).
Menempuh perjalanan kurang lebih 16 jam dari Jakarta- Berlin, merupakan perjalanan yang sangat melelahkan, apalagi harus melalui pemeriksaan yang ketat dari petugas bandara di negara transit. Namun, semua dapat dilalui hingga tiba di Bandara Tegel-Berlin dengan selamat, dan disambut cuaca dingin Berlin yang mencapai 8 derajat celcius ini. Setelah melalui pemeriksaan imigrasi, rombongan akhirnya keluar dari Bandara Tegel menuju salah satu Restoran Indonesia yang menyediakan makanan khas Indonesia, yakni di Bali Restoran untuk santap siang bersama, tentunya dengan menyantap nasi, daging ayam dan sayur-sayuran yang menjadi ciri khas makanan Indonesia.
Usai makan siang bersama di Bali Restoran, rombongan selanjutnya diantar menggunakan Bus menuju Hotel Bintang 4 Novotel Berlin Mitte untuk melakukan Chek-in lalu beristirahat. Kesempatan istirahat ini benar-benar dimanfaatkan dengan baik oleh rombongan, apalagi dengan fasilitas hotel yang berkelas, benar-benar memanjakan seluruh delegasi Papua untuk beristirahat senyaman mungkin.
Pada Rabu (7/03), sebelum berangkat menuju lokasi pameran, seluruh personil terlebih dahulu melakukan makan pagi bersama di Restoran Hotel yang menyediakan 100 persen makanan khas Eropa. Dari berbagai jenis makanan, hanya roti, kue, kentang dan sosis yang menjadi pilihan, karena hanya itu makanan yang bisa “dimengerti”, selebihnya tidak disentuh, karena memang sebagian besar personil dalam rombongan Papua ini belum paham dengan makanan khas Eropa ini, hal ini juga disebabkan dengan tidak diberinya petunjuk oleh perusahaan jasa Tourism yang melayani tim dari Papua ini tentang bagaimana menghadapi makanan di Eropa.
Sehingga dalam hal makan saja, kadang kita ditertawai karena salah mengambilnya, atau sudah mengambilnya, tetapi tidak tahu bagaimana cara meramunya untuk bisa dimakan, sehingga terkadang, ada makanan yang sudah diambil, tetapi tidak dapat dilanjutkan untuk disantap, setelah terasa beda pada lidah, xixixi...agak lucu bila mengingatnya. Karena itu, menjadi penting, soal makanan ini perlu dijelaskan kepada tim, apabila suatu saat nanti akan berkunjung ke Eropa, sehingga tidak menjadi kaku dan salah tingkah di depan orang lain.
Ini merupakan persoalan kecil, tetapi dampaknya sangat besar bagi kesehatan, apalagi dalam cuaca dingin yang tidak biasanya hingga mencapai 5 derajat celcius, tubuh perlu makanan yang cukup, agar mampu bertahan dan mengikuti aktifitas lainnya sesuai acara yang diagendakan.” Aduh, makanan ini bikin kita pusing juga, tapi kalau tidak makan, salah salah juga, kita bisa sakit jadinya,” ujar salah satu delegasi asal pegunungan bintang.
Lupakan soal makan, dan selanjutnya setelah makan pagi, rombongan diarahkan menuju Bus dan diantar menuju ke tempat pameran. Ketika tiba dipelataran gedung pameran, rombongan berlomba-lomba untuk mengabadikan moment bersejarah dengan latar belakang gedung Messe Berlin, meski dihantui rasa dingin yang sangat menggigit, tetapi semangat memotret tetap dilanjutkan, hingga rombongan diarahkan untuk segera memasuki gedung pameran. Rasa dinginpun lenyap beberapa saat setelah berada dalam gedung, karena sistem pemanas di gedung ini berjalan dengan baik untuk menghangatkan seluruh pengunjung.
Meskipun areal pamerannya sangat luas, namun pengunjung tidak kesulitan untuk menemukan stand yang ingin dikunjungi, karena di setiap sudut, sudah ada peta atau denah dari setiap stand dan nomor standnya, sehingga hanya dengan mengikuti petunjuk peta itu, kita bisa dengan mudah mencapai lokasi yang diinginkan.
Rombongan dari Papua tidak perlu lagi melihat peta , tetapi nomor stand Indonesia dan Papua sudah diketahui sebelumnya, sehingga hanya dengan mengikuti pimpinan rombongan, tim dari Papua ini dengan mudah mencapai stand Indonesia yang berdekatan dengan stand Papua milik DR.Werner. Setelah itu, tanpa dikomando, masing-masing personil yang rata-rata membawa kamera mulai mengabadikan situasi yang ada dalam lokasi pameran ini, sementara tim tari asal pegunungan bintang, mulai bersiap untuk mementaskan tariannya. ( Bersambung )





Comments
Post a Comment