Skip to main content

Hermus Indou dari Penggembala Sapi Menjadi Bupati

Tak ada yang menduga ketika seorang penggembala sapi bahkan pembantu penjual pisang goreng dan penjual es lilin di sekolah, kini menjadi seorang Bupati? Ya, dialah Hermus Indou, yang saat ini menjadi Bupati Kabupaten Manokwari periode 2021-2024.  “Saat masih kecil dulu, saya menjadi penggembala sapi, juga menjadi tukang pegang termos air panas dari penjual pisang goreng yang menjual es lilin di SMP Negeri Warmare,” cerita Bupati Manokwari, Hermus Indou tentang masa kecilnya.  Tak hanya itu, ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Manokwari, Hermus Indou menjadi pesuruh dari teman-teman sekolahnya untuk membeli sesuatu di luar sekolah. “Saya biasa disuruh teman-teman untuk beli pisang goreng. Setelah beli pisang goreng itu, saya juga dapat jatah, sehingga bisa makan pisang goreng juga,” kenangnya. Hal ini dilakukan Hermus Indou muda, agar dirinya tidak kelaparan di sekolah. Karena pada masa itu, adalah masa-masa yang sangat sulit baginya untuk mendapatkan ua...

Berkunjung ke Washington,DC dan San Fransisko Amerika Serikat - Catatan Perjalanan 2018

Ketika transit di salah satu Bandara Internasional


Akhir April 2018, saya mendapat kesempatan dari Kedutaan Besar Amerika Serikat di Indonesia, mengikuti Sports Visitor Program di Washington DC dan San Fransisko (California) Amerika Serikat.

Tujuan perjalanan itu adalah untuk belajar pengelolaan olahraga secara umum di Amerika Serikat. Nilai-nilai positif yang kami dapatkan, diharapkan dapat diterapkan pada komunitas yang kami dampingi ketika kembali ke Indonesia.

Group kami berjumlah 14 orang, terdiri dari anak-anak muda Indonesia yang menjadi pelatih atau pembina dari komunitas olahraga dan yang berkebutuhan khusus.

Ya, sekali lagi perjalanan ke Amerika Serikat ini juga adalah suatu keberuntungan. Karena ada seorang pelatih yang tidak memiliki berkas-berkas yang lengkap, akhirnya saya diminta untuk mengisi kuota itu.

Sebelum berangkat ke Amerika Serikat, kami melakukan pertemuan beberapa kali dengan pihak kedutaan dan para alumni Amerika Serikat untuk belajar sedikit tentang budaya dan kehidupan di Amerika Serikat, khususnya di Washington DC dan San Fransisko.

Pada 28 April 2018, jam 6.00 Wib kami meninggalkan Bandara Soekarno Hatta menuju Washington Dulles International Airport via Bandar Udara Internasional Haneda Tokyo dan Bandara Internasional San Fransisko California.

Pada pukul 24.40 ( Waktu Washington DC),Sabtu(28/4), pesawat United Airlines 0517, mendarat dengan mulus di Washington Dulles International Airport. Kami yang berjumlah 14 orang dari Indonesia ini, termasuk dalam 200-an penumpang dalam pesawat milik Amerika Serikat ini.

Di tempat pengambilan bagasi, kami bertemu dengan Bryan, Kae Kosasih dan Carles Wijaya. Bryan adalah orang Amerika yang bekerja di FHI 360 yang menjadi administrator program sports visitor, sedangkan Kae dan Carles adalah orang Indonesia yang tinggal di Amerika, dan keduanya bekerja sebagai interpreter dalam program ini.

Setelah memastikan semua bagasi diambil, kami berjalan keluar Bandara. Hawa dingin 10 derajat celcius menyambut kami di pintu keluar. Beberapa teman gemeteran, hingga kembali masuk ke ruang Bandara. Namun tak berlangsung lama, setelah sebuah minibus dari Awards Limousine Service, berhenti di depan kami, lalu memasukan barang dan bergegas masuk dan menuju tempat penginapan.

Kurang lebih 30 menit perjalanan dari Bandara, kami tiba di Churchill Hotel yang beralamat di 1914 Connecticut Avenue, Washington DC. Lalu briefing beberapa menit bersama Bryan dan pembagian kunci kamar, selanjutnya menuju kamar masing-masing dan melepas lelah.

Dengan fasilitas hotel bintang lima,  tubuh yang lelah akibat menempuh perjalanan kurang lebih 24 jam dari Jakarta, terbayar lunas. Meskipun Jet lag, kami bisa  menyesuaikan dengan program di hari pertama, yakni Tur khusus Washington DC bersama Ms.Robin Dickey dari Capital Communications Group,Inc.

Tur khusus ini untuk memperkenalkan ibukota Amerika Serikat, dengan melihat gedung dan bangunan bersejarah di kota ini untuk memberikan gambaran tentang konsep demokratis dan menjelaskan proses politik Amerika. Beberapa tempat yang kami kunjungi diantaranya Gedung Putih ( White House), gedung Capitol, Lincoln Memorial, dan lain-lain.

Depan Gedung Putih


Jumlah Penduduk di Washington,DC adalah 632.323.

Washington, DC terletak di pertemuan sungai Potomac dan Anacostia, antara negara bagian Maryland dan Virginia. Dinamakan atas George Washington dan Christopher Columbus, kota ini dibuat sebagai pusat pemerintahan federal oleh suatu undang-undang dari Kongres pada tahun 1790. Pierre L'Enfant, seorang tantara dan insinyur Perancis, menyusun rencana untuk kota federal. Meskipun ada réncana besar L'Enfant, kota ini tidak berkembang pesat. Kota ini mengalami kemunduran besar selama Perang 1812 ketika pasukan Inggris memasuki Washington dan membakar gedung-gedung pemerintah (ketika kediaman Presiden dibangun kembali, permukaan bekas kebakaran dicat warna putih, sehingga gedung itu dinamakan "Gedung Putih").

Jalan-jalan cuci mata...hahaha

District of Columbia tumbuh perlahan tapi pasti. Pada saat Perang Saudara Meletus pada 1861, kota ini adalah kota yang sibuk dengan 75.000 penduduk. Saat ini, penduduk di dalam kota hanya sekitar 600.000, namun di sekitar Washington - termasuk daerah pinggiran di Maryland dan Virginia - memiliki populasi 5,5 juta orang, menjadikannya wilayah perkotaan terbesar ketujuh di A.S.

Washington berfungsi sebagai ibu kota Amerika Serikat, tetapi bukan bagian dari negara bagian manapun. Kota ini dikelola oleh Kongres sampai 1974, ketika "home rule" atau pemerintahan oleh walikota dan dewan kota terpilih disahkan. Penduduk DC diwakili di Kongres oleh delegasi non- voting yang dapat mengambil bagian dalam hearing, debat, dan fungsi lainnya di Kongres dan berdasarkan Amandemen UUD ke-23, memiliki perwakilan suara pada Presidential Electoral College. Namun, karena itu bukan negara bagian, penduduk DC tidak memíliki suara di Senat ataupun Dewan Perwakilan.


Bisnis utama Washington adalah politik nasional dan internasional. Industri swasta terkemuka adalah pariwisata, dengan 14 hingga 15 juta pengunjung datang ke kota ini setiap tahunnya. Baru- baru ini banyak perusahaan penelitian dan pengembangan di bidang elektronik, fisika, dan ilmu pengetahuan lainnya telah menempatkan diri di wilayah ini. Kota ini juga mengalami pertumbuhan luar biasa di sector keuangan dan internet. Hampir semua dari 500 perusahaan teratas di AS memiliki kantor di sini. Washington juga merupakan pusat pendidikan dan penelitian utama. Di dalam kota ini, ada American University, The Catholic University of America, Georgetown University, the George Washington University, Howard University, The University of the District of Columbia dan Gallaudet University, sebuah universitas terkenal untuk tuna rungu. Selain itu, banyak lembaga penelitian politik, ekonomi, dan medis berlokasi di Washington. National Mall terletak di antara Jalan Constitution dan Independence, membentuk poros kota, dengan gedung Capitol AS di sebelah timur dan Lincoln Memorial di barat. Smithsonian Institution – termasuk Museum Air and Space yang terkenal, Museum Hirschhorn dan Taman Patung, Sackler Gallery of Near East dan Asian Art dan Museum African Art, Freer Gallery, Museum American History, dan Museum Natural History – berbatasan dengan Mall di utara dan selatan. Gedung Putih, Monumen Washington, Galeri Seni Nasional, Memorial Vietnam, dan Arsip Nasional (yang memamerkan Konstitusi AS dan Deklarasi Kemerdekaan asli), Museum Holocaust Memorial AS, dan Monumen Thomas Jefferson juga terletak di atau dekat National Mall.

 

Hari pertama program bersama Administrator Program FHI360.


Pada hari Senin(30/4/2018), kami bertemu lagi dengan Ryan dan Evan dari FHI 360, memberikan penjelasan dan hal-hal lain soal administrasi, setelah itu kami mengikuti pemaparan seorang Profesor di bidang Sports Management dari George Mason University, Mrs. Jacqueline McDowell. Wanita cantik, tinggi dan berkulit hitam ini, memaparkan tentang Title IX.

Penelitian Dr. McDowell berfokus pada isu-isu keragaman dan inklusi dalam organisasi olahraga dan rekreasi, dengan penekanan pada penyelidikan dan pengembangan strategi dan program yang dapat diterapkan untuk menghilangkan hambatan untuk berpartisipasi. Penelitiannya ini menyelidiki kegunaan program olahraga dan olahraga seumur hidup dalam mengurangi resiko kesehatan.

Nah, mengenai Title IX, kata Dr. McDowell, adalah Undang-Undang di Amerika Serikat yang melindungi warganya dari diskriminasi berdasarkan jenis kelamin dalam program pendidikan atau kegiatan yang menerima bantuan keuangan dari negara. Undang-Undang ini lahir tahun 1972, namun baru diimplementasikan pada Tahun 1979, yang diberlakukan oleh Kantor Departemen Pendidikan Hak Sipil Amerika Serikat (OCR).

Mendengar pemaparan dari Dr. Jacqueline

Program atletik dianggap sebagai program dan kegiatan pendidikan. Ada tiga bagian dasar dari Title IX yang berlaku untuk atletik di Amerika Serikat, yakni Partisipasi, Beasiswa dan Manfaat lain.

Pertama, Title IX mensyaratkan bahwa perempuan dan laki-laki diberikan kesempatan yang adil untuk berpartisipasi dalam olahraga. Title IX tidak mengharuskan institusi untuk menawarkan olahraga yang identik, namun kesempatan yang sama untuk bermain.

Kedua, Title IX mensyaratkan atlit perempuan dan laki-laki menerima jumlah uang beasiswa atletik yang sebanding dengan partisipasi mereka, dan Ketiga, Title IX juga mensyaratkan perlakuan yang sama terhadap atlet perempuan dan laki-laki dalam hal peralatan dan persediaan, penjadwalan pertandingan dan waktu latihan, perjalanan dan uang saku harian atau per diem, akses ke les, pelatihan, ruang loker, fasilitas latihan dan persaingan, fasilitas dan layanan medis dan pelatihan, fasilitas dan layanan tempat tempat tinggal dan makanan, publisitas dan promosi, layanan dukungan dan perekrutan siswa atlet.

Title IX Inilah yang berlaku di Amerika Serikat saat ini, jika ada perorangan atau organisasi yang melanggar, atau ada atlet yang melaporkan, maka pihak yang melakukan pelanggaran Title IX itu akan diproses hukum.

Nah, bagaimana dengan Indonesia? apakah ada diskriminasi? apakah perempuan mendapatkan hak yang sama dengan laki-laki?apakah perempuan mendapatkan perlakuan yang sama seperti laki-laki? apakah atlet perempuan mendapatkan perhatian yang sama seperti atlet laki-laki? pertanyaan Dr. McDowell ini, membuat kami kaget dan saling memandang satu dengan lainnya. Kemudian, beberapa dari kami memberikan pandangan dan argumen yang variatif tentang praktek-praktek kesetaraan gender yang terjadi di olahraga Indonesia.

Serius mengikuti sesi

Agus Salim asal Probolinggo menuturkan, di tempat asalnya ada pembagian jadwal untuk pemakaian kolam renang, namun jadwal untuk perempuan hanya beberapa jam pada hari kamis, sedangkan hari lainnya untuk laki-laki. Dr.McDowell menanggapinya, bahwa hal itu tidak bisa diterima oleh Title IX. Yang diterima Title IX, kalau penggunaan kolam renang untuk laki-laki adalah 2 hari dalam seminggu, maka perempuan juga harusnya 2 hari dalam seminggu.

Mengenai uang saku atlet perempuan di Indonesia juga tidak terbuka, sehingga tidak bisa diketahui berapa yang diterima atlet laki-laki dan atlet perempuan.

Pandangan peserta beragam, namun secara umum yang terjadi di Indonesia adalah masih adanya diskriminasi terhadap atlet perempuan, baik dalam hal gaji, uang saku, penggunaan fasilitas dan penjadwalan.

Mrs. Jacqueline McDowell berharap, kiranya proses perubahan managemen olahraga ke arah yang lebih baik bisa terus terjadi di Indonesia, terutama adanya keadilan bagi atlet-atlet perempuan Indonesia.

Setelah pemaparan Profesor Mrs. Jacqueline McDowell, dosen Sports Management dari George Mason University, kami melanjutkan pertemuan dengan Emily Kruger dari Coaches Across Continents (CAC), lalu diskusi bersama Director of Citizen Exchanges U.S Department of State, Mr. Karl Stolz.

Emily Kruger membawa kami dalam sebuah permainan di lapangan selama dua jam. Permainan itu diarahkan pada pengembangan keterampilan sepakbola dengan pengembangan keterampilan hidup. Emily mnejelaskan, bahwa permainan yang diberikan merupakan metode dan program CAC yang menggunakan sepakbola untuk metodologi dampak sosial yang memberikan lingkungan pembelajaran yang aman dan menyenangkan kepada para remaja di mana mereka bisa mengalami ide-ide baru, mempraktekkan kecakapan hidup dan membuat pilihan yang sehat.

Emily memberikan tantangan kepada para peserta untuk memberikan contoh permainan yang bisa diaktualisasikan dalam kehidupan anak-anak, temanya beragam, ada tentang saling menghargai, respek, saling bekerjasama untuk mencapai tujuan dan belajar mengatasi berbagai tantangan dalam hidup dengan berbagai cara.

Permainan ini sangat dinikmati oleh 14 peserta dari Indonesia, bahkan beberapa pelatih terlihat sudah sangat familiar dengan tantangan yang diberikan Emily. Tak heran, karena program CAC ini sudah berjalan di Indonesia dalam 5 tahun terakhir bersama perkumpulan sepakbola sosial Uni Papua.

Setelah bersama Emily, kami kembali ke ruangan bertemu Director of Citizen Exchanges U.S Department of State, Mr. Karl Stolz. Pria yang pernah merasakan kepemimpinan 4 Presiden Republik Indonesia paskah reformasi ini mampu berbahasa Indonesia, Malaysia, PNG Fiji dan Rusia. Dirinya memberikan pandangan tentang pentingnya sports diplomacy dalam mengatasi berbagai konflik di dunia.

Kata Karl, awalnya divisi sports diplomasi dipertentangkan dan dipertanyakan masuk dalam Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, tetapi dengan melihat dampak olahraga yang begitu dasyat menyentuh khalayak umum di seluruh dunia, maka keberadaan sports diplomasi sekarang menjadi sangat penting sebagai sarana mengatasi konflik dan sebagai alat diplomasi yang penting.

Ia berharap, program sports visitor yang digagas pihaknya bersama FHI 360, bisa memberikan pengalaman terbaik di Amerika kepada pelatih-pelatih Indonesia, khususnya yang berkecimpung di olahraga sosial, agar memberikan efek bagi generasi muda Indonesia untuk menjadi generasi yang cerdas, kuat, sehat dan bertanggung jawab.

Karl juga berharap, setelah mengikuti program, 14 peserta ini akan menjadi alumni bergabung bersama ribuan alumni dari program Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, untuk tetap berkarya bagi negara dan memberikan dampak positif bagi warga dan komunitas di negara masing-masing.

Pertemuan selanjutnya bersama pemain sepakbola wanita dari Tim Nasional Amerika Serikat, Ms. Joanna Lohman dan juga mendengar pandangan dari seorang penulis buku dan kurator dari Sports Exhibit Smithsonian Institute, Mr. Damion Thomas.

Ms. Joana Lohman ( tengah ) pemain timnas Sepakbola Wanita Amerika Serikat

Pemain timnas sepakbola Wanita Amerika Serikat, Ms. Joanna Lohman memberikan pemahaman dan pandangan tentang rasisme dan olahraga serta posisi LGBT di tim olahraga.

" Tidak ada perlakuan khusus dan tidak ada pandangan yang miring kepada semua warga negara Amerika Serikat. Semua warga mempunyai hak yang sama. Orang Amerika sangat menghormati privasi orang. Dalam dunia olahraga juga demikian, termasuk soal LGBT itu urusan pribadi," kata Joanna.

Pemahaman yang salah tentang suku, ras, agama hingga LGBT sudah mulai hilang, karena pemahaman warga Amerika secara umum sudah modern. Kalaupun ada muncul dalam beberapa kasus di dunia olahraga, itu sangat cepat direspon Pemerintah, dan sangsinya besar bagi pihak-pihak yang melakukan perbuatan tidak menyenangkan kepada orang lain.

Beberapa pertanyaan dan pandangan 14 peserta terhadap praktek di Indonesia yang dikatakan masih terjadi, Joanna berharap seiring berjalannya waktu, Indonesia juga bisa berubah. Pemerintah, hukum dan masyarakatnya harus berjalan bersama dan berani ditegakkan, sehingga pemahaman-pemahaman yang salah terhadap keyakinan lain atau kondisi yang berbeda dengan orang lain, hendaknya bisa diterima dan diperlakukan secara adil.

Pandangan yang sama juga dikatakan penulis buku dan kurator dari Sports Exhibit Smithsonian Institute, Mr. Damion Thomas. Dalam pandangannya, dan pengalamannya, semua orang di Amerika bisa menerima keadaan orang lain, membantu orang lain dan menerima perbedaan yang terjadi. Meskipun ada beberapa kasus, tetapi itu bisa diselesaikan dan presentasenya sangat kecil. Ia berpandangan, bahwa apa yang terjadi di Indonesia, bisa dirubah, hanya memang butuh waktu yang lama. Karena itu, dia berharap, nilai-nilai positif yang diterima dari program ini, bisa disampaikan dan disebarkan di Indonesia, agar membantu proses pemahaman yang baik terhadap keberagaman.

Bertemu Ms. Joana di lapangan bola Maryland SoccerPlex

Tidak hanya dalam ruangan, kami juga berkesempatan melihat langsung Joanna Lohman dan timnya (Washington Spirit ) berlatih. Kunjungan itu sangat berkesan, karena bisa mengunjungi pusat pelatihan tim sepakbola wanita dari klub Washington Spirit di Maryland SoccerPlex yang sangat luas, suatu areal yang indah, terpencil dan memiliki kurang lebih 17 lapangan sepakbola yang tertata rapi.

Selain melihat Joanna dan rekan-rekannya berlatih, kami berkesempatan berbincang-bincang dengan Kepala Pelatih Washington Spirit, Jim Gabarra, dan para asistennya, Briana Scurry dan Tom Torres. Mereka juga menunjukkan teknologi yang digunakan untuk mengukur kemampuan tiap pemainnya dalam sesi latihan. Alat itu dipasang seperti gelang di pergelangan tiap pemain dan satu alat lagi melingkar di tubuh tiap pemain, dan dipantau menggunakan monitor Ipad oleh seorang asisten pelatih. Ya, itu salah satu hal yang membuat kami terkesima.

Washington Spirit, selain diperkuat pemain lokal dari Amerika Serikat, mereka juga memiliki sejumlah pemain asing dari Afrika, Eropa dan Amerika Latin. Jujur, kami semua terkesima melihat mereka berlatih, kemampuan dribling, menendang bola, passing, lari dan daya tahan tubuh nampak seperti atlet pria. Saat ini mereka berada diperingkat 8 klasemen sementara dari 9 tim di Liga NWSL Amerika Serikat.

Selasa(1/5), kami berkesempatan mendapat ilmu dari Kaimana Chee, seorang fasilitator berpengalaman dan kharismatik yang menambahkan wawasan pada konsep perencanaan tindakan berdasarkan lima fase model CAPES yang telah dirancang untuk memastikan pemahaman dasar teoritis dan praktis untuk melaksanakan proyek.

CAPES adalah singkatan dari Consider Analyze, Plan, Evaluate dan Sustain. Dapat diartikan sebagai suatu tahapan yang dimulai dari pertimbangan dengan berpikir secara kritis dan mendiskusikan masalah-masalah, lalu menganalisa masalah-masalah yang akan terjadi, membuat rencana yang rinci, mengevaluasi dan memastikan keberlangsungan proyek yang menguntungkan.

Rabu(2/5), kami juga bertemu dengan Mr.Besheer Mohamed, seorang peneliti senior dan rekannya dari PEW Research Center yang menjelaskan hasil penelitian mereka tentang perkembangan Islam di Amerika.

Setelah dari PEW RC, kami berjalan kaki ke Kedutaan Besar Republik Indonesia, bertemu dengan sejumlah warga Indonesia yang bekerja di kantor kedutaan, berdiskusi dan melihat ruangan-ruangan yang bersejarah dari gedung itu.




Theodorus Satrio Nugroho, mewakili Duta Besar Indonesia di Washington DC, dalam sambutannya memberikan apresiasi yang tinggi kepada FHI 360 dan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, karena menginisiasi program sports visitor. Dirinya berpesan, agar 14 orang pelatih yang mengikuti program itu dapat mengimplementasikan ilmu dan pengalaman yang diterima di Amerika itu kepada komunitas dan anak-anak di Indonesia. Setelah bertatap muka dan mendengar pesan dan kesan dari perwakilan peserta program sports visitor, kami diberi kesempatan untuk melihat beberapa sudut dari gedung yang menjadi kantor kedutaan Indonesia di Washington DC itu. Kunjungan ke kantor Kedutaan RI itu, merupakan kegiatan terakhir kami di Washington DC, sebelum pagi harinya terbang dengan pesawat ke San Fransisko California untuk menjalani rangkaian program lainnya.

Tentang San Fransisko

Jumlah Penduduk di San Fransisko adalah  812.000, lebih banyak dari Washington ,DC.

San Fransisko terkenal akan keindahannya dan keramahannya yang terbuka. Ini juga merupakan pusat keuangan dan asuransi utama, pelabuhan internasional, dan pintu gerbang ke Silicon Valley, pusat teknologi tinggi utama Amerika. Karakter kota, yang dianggap tidak biasa, santai, dan inovatif, sebagian besar berasal dari sejarahnya sebagai pertambangan dan kota perdagangan yang tangguh yang tertarik ke pantainya yang penuh dengan jiwa petualang dan keras dari seluruh dunia. Populasinya yang heterogen, iklim yang sejuk, restoran yang bagus, toko yang modis, stan bunga pinggir jalan, dan kereta kabel yang berdenting membuat San Fansisko luar biasa menawan, dengan ketinggian yang berbeda dari permukaan laut sampai 938 kaki di atasnya, kota berpenduduk 800.000 jiwa ini terletak di sejumlah bukit di ujung semenanjung sempit yang dibatasi di satu sisi oleh Samudera Pasifik dan di sisi lain oleh Teluk San Fransisko, salah satu pelabuhan darat terbesar di dunia. Menghubungkan teluk dengan laut adalah Golden Gate, yang dilalui oleh Jembatan Golden Gate. Baik kota maupun kabupaten, San Fransisko merupakan pusat keuangan di Pesisir Pasifik, lokasi kantor pusat yang penting, dan pelabuhan yang penting.















Wilayah anggur Napa Valley di utara kota dan "Silicon Valley," sebuah pusat industri elektronik, adalah di selatan. Sepanjang pantai ada jalan raya nan cantik Highway 1, di mana tebing tinggi dan pantai yang indah menarik para wisatawan dan penduduk setempat.

San Fransisko diatur oleh bentuk pemerintahan dewan kota. Ini adalah satu-satunya kota di Kalifornia yang juga merupakan county/kabupaten. Lembaga pendidikan utama termasuk University of San Fransisko, Stanford University, San Fransisko State University dan the University of California at Berkeley. Tempat-tempat wisata kota ini meliputi Jembatan Golden Gate, Fisherman's Wharf, Ghirardelli Square, Embarcadero Center, Alcatraz Island, dan Lombard Street.

San Fransisko memiliki populasi penduduk Asia dan Pasifik yang besar di samping populasi Afrika-Amerika, Latin, dan kulit putih. Sejak dahulunya, San Fransisko telah menjadi pusat perdagangan dan pengiriman penting. Barang impor utama adalah minyak mentah dan produk minyak bumi, diikuti oleh produk pertanian. Perang Dunia Ke-2 memulai ledakan permintaan di industri pertahanan, menghasilkan industry teknologi tinggi yang terus berkembang. Industri kedirgantaraan dan ilmu kedokteran adalah industry berteknologi tinggi yang sedang berkembang.

San Fransisko adalah pusat awal untuk perdagangan kulit binatang, perburuan ikan paus, penangkapan binatang liar, dan penambangan emas dan perak. Gold Rush pada 1849 memacu pertumbuhan cepat yang mengarah pada pendirian kota pada 1850. Pengusaha awal San Fransisko seperti Collis P. Huntington, Leland Stanford, Charles Crocker dan Mark Hopkins membiayai kereta api lintas benua, yang berkontribusi pada kemakmuran kota.

Jumat 4 Mei, kita memulai program pertama di San Fransisko dengan mengunjungi salah satu Kampus terkemuka di dunia, UC Berkeley, dan berjumpa dengan Program Director UC Berkeley Center for Restorative Justice, Ms. Julie Shackford-Bradley dan rekannya Jonathan. Mereka memberi penjelasan tentang Restorative Justice (RJ) yang diterapkan di Amerika Serikat. Menariknya, konsep RJ ini diambil dari negara-negara pasific, termasuk di Papua. Konsep RJ adalah salah satu resolusi konflik yang ditawarkan dalam menangani dan menyelesaikan konflik-konflik di sekolah, baik konflik antara siswa dengan Guru, atau antara siswa dan siswa hingga yang melibatkan orang tua siswa.

" Banyak konflik yang terjadi di sekolah langsung dilaporkan ke Polisi, bahkan sampai ke pengadilan, dengan menghabiskan waktu dan biaya, serta menyebabkan dampak buruk lainnya bagi anak-anak yang terlibat konflik. Karena itu, RJ ini lahir memberikan solusi yang baik dalam menyelesaikan konflik di sekolah," kata Ms. Julie.




















Konsep RJ juga dipakai oleh tim sepakbola, dan hasilnya sangat membanggakan. Angka kelulusan meningkat setelah menggunakan konsep RJ, demikian juga prestasi tim meningkat setelah menggunakan konsep RJ.

Ray Finn dari Evergreen State College bahkan mengakui keunggulan konsep RJ. Melalui video confrence, Ray menceritakan bagaimana dia menjalankan konsep RJ di timnya, sehingga terjadi hal positif dalam timnya.

Selanjutnya, kami melakukan pertemuan dengan dua orang pelatih penyandang cacat dari Bay Area Outreach and Recreation Program (BORP). Kami mendengar cerita mereka tentang tantangan yang dihadapi dalam melatih anak-anak disabilitas. Pengalaman itu memberikan pemahaman bagi kami untuk melakukan hal yang sama dalam menangani atlet-atlet disabilitas.

 

Sabtu 5 Mei, kami berkesempatan menonton pertandingan sepakbola profesional liga MLS antara San Jose Earthquake vs Portland Timbers di Stadion Avaya San Jose. Kunjungan ini membuat saya bahagia, karena bisa menyaksikan secara langsung dua tim sepakbola profesional di Amerika bertanding, melihat suasana stadion dan konsep pengelolaan stadion yang menggabungkan olahraga, rekreasi dan kuliner.

 

Senin 7 Mei, Ms. Kathy Toon, seorang Pelatih dari Aliansi Pelatihan Positif

memberikan penjelasan bagaimana menggunakan Kepositifan di dalam Pelatihan olahraga.

Dirinya memberi pemahaman bahwa pendekatan positif bisa didapatkan secara maksimal dari atlit remaja dan tingkat SMA, dan inilah yang inginkan oleh para pelatih, orang tua, dan atlit sendiri.

Tetap mempunyai rasa positif juga membantu para remaja mendapatkan hal yang maksimal dari olahraga. Menyemangati atlit dengan penekanan yang positif

membantu mereka mendengar dan memperbaiki hal-hal yang dibutuhkan. Dengan kombinasi yang efektif antara kejujuran, pujian tertentu, dan kritik yang

membangun, prestasi atletik bisa ditingkatkan dan juga kesempatan untuk anak

tersebut selalu tetap berolahraga dan belajar semua pelajaran kehidupan yang

berharga yang secara alamiya tersedia melalui kompetisi yang terorganisir.

Setelah itu, kami bertemu dengan Kepala Training, Up2Us Sports, Dre De La Peza

yang mempraktekan olahraga untuk membantu trauma dan konflik

Berakar dalam pengembangan otak dan penelitian desain organisasi, pelatihan ini berfokus pada strategi yang membantu program menyediakan ruang yang aman bagi para pemuda yang mengalami trauma.

 

Selasa 8 Mei, Kami mengikuti kegiatan team building yang dipandu oleh Pasific Leadership Institute di lokasi Golden Gate Park Ropes Course. Di sini, fisik, emosional dan mental diuji untuk kami belajar mendorong pengembangan tim, dukungan, kepercayaan, kepemimpinan dan penetapan tujuan pribadi.

Sore harinya, kami bertemu seorang pelatih dari USA Soccer, Ramire Rodriguez, dia memberikan pemahaman dasar dalam melatih anak-anak tingkat grassroot, lalu melihat prakteknya bersama tim sepakbola wanita U-16.

 

Rabu 7 Mei, kita  menjadi relawan di Program BAWSI Roller dari Bay Area Women's Sports Initiatives.

Program BAWSI Roller memberikan kegiatan fisik yang menyenangkan, adaptif

untuk anak taki-taki dan perempuan yang mempunyai disabilitas fisik, kognitif,

dan pendengaran. Melalui kurikulum yang menyenangkan dan aktif yang meliputi pertandingan seperti bola basket, sepakbola, dan permainan ikan hiu dan ikan kecil, program BAWSI Roller membantu peserta mengembangkan koordinasi tangan-mata, kekuatan, kepercayaan diri, dan rasa kemandirian. Sesi mingguan termasuk kegiatan-kegiatan yang memusatkan pada aturan tujuan, kerja tim, dan persaingan sehat, juga percakapan yang penuh semangat tentang rasa hormat diri sendiri, tanggung jawab, dan kepemimpinan.

Setelah itu berbincang-bincang dengan Jennifer Smith, Presiden Direktur BAWSI

yang menceritakan bagaimana dirinya membangun organisasi itu dan melaksanakan program-programnya, terutama dalam penggalangan dana.

Selanjutnya kami mengunjungi Oakland International High School, melihat fasilitas olahraga di sekolah itu dan mendengar program-program yang telah dilakukan di sekolah itu bersama Cormac Kilgallen, dekan siswa OIHS.

Kemudian ke Soccer Without Borders dan bertemu Mr. Gucciardi dan timnya. Ben menceritakan bagaimana mereka memfokuskan energinya dalam pengembangan pemuda melalui sepakbola. Ben juga menceritakan bagaimana mereka mendobrak hambatan untuk berpartisipasi untuk pemuda yang kurang terlayani di masyarakat, dengan pendekatan unik dan kekuatan sepakbola.

 

Kamis 10 Mei, kami bertemu dengan Profesor Jacquelyn Horton dari University of San Fransico.  Professor Horton adalah direktur USF Speaking Center dan seorang instruktur di Fakultas Retorik dan Bahasa. Dia memberikan tips kepada kami, bagaimana bisa tampil dan berbicara dimuka umum dengan baik.

 

Jumat,11 Mei kami mempresentasekan rencana tindak lanjut

Sabtu,12 Mei kami kembali ke Indonesia.

 























Saya menyampaikan penghargaan yang tinggi dan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada Kedutaan Besar Amerika Serikat di Indonesia, karena telah memberikan kesempatan kepada saya untuk mengikuti program sports visitor ke Washington DC dan San Fransisko Amerika Serikat.

Terus terang, menginjakkan kaki di Amerika Serikat itu seperti mimpi yang jadi kenyataan. Ini adalah sejarah dalam hidup saya dan akan selalu saya kenang dan banggakan.

Beberapa yang saya suka di Amerika itu adalah kotanya yang bersih, ada jalan untuk pejalan kaki, lalu lintas yang tertib, jarang melihat kendaraan roda dua, ada ruang terbuka hijau, ada banyak taman, ada banyak sarana olahraga untuk publik dan banyak pilihan makanannya, apalagi Hamburger dan Sandwishnya.

Mengenai program ini, sangat berguna bagi saya, karena telah memberikan tambahan pengetahuan, tambahan metodologi dan informasi menarik lainnya, yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan, untuk diterapkan dalam komunitas dan anak-anak yang dibina.

 

Tentang Program Sports Visitor

U.S. Department of State (Departemen Luar Negeri Amerika Serikat) membantu membentuk dunia yang lebih bebas, lebih aman, dan lebih sejahtera dengan merumuskan, mewakili, dan menerapkan kebijakan luar negeri Presiden. Menteri Luar Negeri adalah penasihat utama Presiden mengenai kebijakan luar negeri dan orang yang terutama bertanggung jawab untuk Perwakilan Amerika Serikat di luar negeri.

Biro Urusan Pendidikan dan Kebudayaan (ECA) mendorong saling pengertian antara Amerika Serikat dan negara-negara lain melalui pertukaran pendidikan, professional, dan budaya internasional. Kantor ini mempromosikan hubungan pribadi, professional, dan kelembagaan antara warga dan organisasi swasta di Amerika Serikat dan di luar negeri, dan menyajikan sejarah, masyarakat, seni, dan budaya A.S. dalam semua keragamannya bagi khalayak luar negeri.

Sports Diplomacy merupakan bagiann integral dari upaya untuk membangun hubungan yang semakin kuat antara Amerika Serikat dan negara-negara lain. Diplomasi olahraga menggunakan semangat universal untuk berolahraga sebagai cara untuk mengatasi perbedaan linguistic dan sosiokultural dan menyatukan orang-orang. Partisipasi dalam olahraga mengajarkan kepemimpinan, kerja tim, dan keterampilan komunikasi yang membantu para pemuda berhasil di semua bidang kehidupan mereka.

Divisi Sports Diplomacy ECA memanfaatkan kemampuan olaraga untuk meningkatkan dialog dan pemahaman budaya antar orang-orang di seluruh dunia. Divisi ini menggunakan olahraga sebagai platform untuk mengekspos peserta dari luar negeri kepada kebudayaan Amerika sambil memberi mereka kesempatan untuk menjalin hubungan dengan para professional dan rekan olahraga di A.S.

Sebaliknya, orang Amerika belajar tentang budaya asing dan tantangan yang dihadapi kaum muda dari negara lain saat ini. Divisi Sports Diplomacy telah melibatkan ribuan orang dari lebih dari 100 negara di dalam pertukaran olahraga ini.

Program Sports Visitor adalah program pertukaran internasional berbasis olahraga yang mewakili keunggulan, kepemimpinan, dan pelajaran-pelajaran penting dari Amerika yang dipelajari dalam olahraga secara luas- dari taman bermain hingga liga professional. Para peserta program ini adalah atlit muda, pelatih, dan pengurus yang melakukan perjalanan ke Amerika Serikat untuk pertukaran budaya olahraga yang padat namun singkat. Selama program berjalan, mereka terlibat dengan rekan-rekan dan praktisi olahraga Amerika, berpartisipasi di klinik dan sesi kepemimpinan, membangun tim dan resolusi konflik, serta pada inklusi dan kesetaraan dalam olahraga. Program ini menunjukan kepada para pemuda bagaimana keberhasilan dalam atletik dapat diartikan menjadi prestasi di kelas dan kehidupan. Mereka juga memberi Amerika kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan orang-orang dari setiap wilayah di dunia.

 

Administrator Program: FHI 360
FHI 360 adalah organisasi pengembangan global nirlaba mandiri yang berkomitmen untuk menangani kebutuhan pembangunan manusia di Amerika Serikat dan di seluruh dunia, FHI 360 menjalankan program-programnya bersama dengan para pemimpin kebijakan; komunitas akademisi, lembaga swadaya masyarakat; para pengusaha, dan instansi pemerintah. Dalam kemitraan dengan kliennya, FHI 360 berusaha untuk memenuhi tantangan sosial, ekonomi, dan lingkungan saat ini melalui penelitian, teknologi, manajemen, analisis perilaku, dan teknik pemasaran sosial untuk memecahkan masalah; dan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan di seluruh dunia sebagai sarana yang paling berpengaruh untuk merangsang pertumbuhan, mengurangi kemiskinan, dan mempromosikan cita-cita demokrasi dan kemanusiaan.
Para staf Global Connections merancang dan mengelola kegiatan pertukaran Pendidikan dan protessional dengan mitra di sektor publik dan swasta. Global Connections telah merancang dan melakukan program pertukaran dalam berbagai topik termasuk olahraga; pertumbuhan ekonomi; administrasi peradilan dan supremasi hukum; demokrasi akar rumput; pemerintah federal, negara bagian, dan kota; kajian Amerika; masalah imigrasi dan perbatasan; dan pendidikan kewarganegaraan.

Oleh : Alberth Yomo

Comments

Popular posts from this blog

Mengunjungi Kampung Nadofuai Distrik Waropen Atas Kabupaten Mamberamo Raya ( Bagian-2)

Nampak anak-anak di kampung Nadofuai yang sudah mulai sekolah dengan baik, berharap masa depannya tidak sekelam orang tua mereka. Masyarakat di Kampung Nadofuai dahulu hidup berpindah-pindah tempat demi  mengisi perut dan bertahan hidup. Meskipun ketika itu mereka sudah berada dalam Pemerintahan Kabupaten Yapen Waropen dan Kabupaten Waropen, namun kebiasaan hidup berpindah-pindah masih tetap berlanjut. Laporan : Alberth Yomo Sebelum menjadi Kampung yang definitif pada tahun 1992, Nadofuai merupakan bagian dari Rukun Wilayah (RW) Kampung Barapasi. Dengan jarak kurang lebih 11 kilometer dari Kampung Barapasi yang merupakan Ibukota dari Distrik Waropen Atas, tentu sangat sulit mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten yang ketika itu hanya fokus pada Ibukota Distrik. Dalam situasi itu, tidak ada yang bisa mereka lakukan selain hanya hidup berburu binatang hutan, membuka lahan untuk berkebun,  pergi ke laut mencari ikan, mencari kepiting dan kerang sebagai sumber protein. ...

Yang Tercecer Dari Pameran Pariwisata Internasional di Berlin- Jerman ( Bagian-3)

Tim Tari asal pegunungan bintang yang dikenal dengan sebutan Murop Tabib, benar-benar membuat kejutan di stand Indonesia pada pembukaan pameran Pariwisata Internasional ITB-Berlin. Pukulan tifa, alunan suara yang khas serta tarian dari 10 penarinya, sekejap membuat hidup suasana di stand Indonesia, karena semua mata pengunjung yang berada disekitarnya mencari dan berdesak-desakkan untuk menyaksikan tarian ini. Laporan : Alberth Yomo- Berlin Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia, yang diwakili oleh Director of Internasional Tourism Promotion Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia, Nia Niscaya, mengaku kaget tapi juga merasakan kebahagiaan yang luar biasa, setelah melihat tarian adat yang dipersembahkan oleh para penari asal Pegunungan Bintang Papua, pada pembukaan  pameran Pariwisata Internasional ITB Berlin, yang berlangsung di Berlin, Jerman, Rabu(7/3)lalu. “ Ini surprise, saya tidak menduga Papua bisa hadir dalam iven sebesar ini, apalagi bisa menampilkan tarian ada...

Taria,antara Mamberamo Raya dan Mamberamo Tengah

Kampung Taria, secara geografis berjarak kurang lebih 200 KM arah barat daya dari Bandar udara sentani, yang dapat ditempuh dalam waktu kurang dari dua jam menggunakan pesawat jenis cesna, Pilatus hingga jenis Caravan. Sementara menggunakan transportasi air, dapat ditempuh dalam waktu 4- 6 hari perjalanan dari pelabuhan Jayapura, menggunakan kapal perintis dengan tujuan pelabuhan Trimuris atau Kasonaweja, Ibukota Kabupaten Mamberamo Raya. Setelah itu, dari Trimuris, menggunakan speed boad tujuan Dabra melalui sungai Mamberamo, dan selanjutnya dari Dabra menuju pelabuhan Taria bisa ditempuh dengan menggunakan perahu kole-kole yang digandeng dengan engine 15 PK atau mesin 10 PK ( ketinting ). Kampung ini telah ada sejak Pemerintahan Kabupaten Jayapura tahun 1997, namun masih merupakan suatu wilayah rukun wilayah dari Kampung Dabra, selanjutnya pada tahun 2001, menjadi bagian dari Kampung Fuao, setelah itu, pada tahun 2007 menjadi kampung sendiri dalam wilayah Pemerintahan Distri...