![]() |
| Ketika transit di salah satu Bandara Internasional |
Akhir April 2018, saya mendapat kesempatan dari Kedutaan Besar Amerika Serikat di Indonesia, mengikuti Sports Visitor Program di Washington DC dan San Fransisko (California) Amerika Serikat.
Tujuan
perjalanan itu adalah untuk belajar pengelolaan olahraga secara umum di Amerika
Serikat. Nilai-nilai positif yang kami dapatkan, diharapkan dapat diterapkan
pada komunitas yang kami dampingi ketika kembali ke Indonesia.
Group
kami berjumlah 14 orang, terdiri dari anak-anak muda Indonesia yang menjadi
pelatih atau pembina dari komunitas olahraga dan yang berkebutuhan khusus.
Ya,
sekali lagi perjalanan ke Amerika Serikat ini juga adalah suatu keberuntungan.
Karena ada seorang pelatih yang tidak memiliki berkas-berkas yang lengkap,
akhirnya saya diminta untuk mengisi kuota itu.
Sebelum
berangkat ke Amerika Serikat, kami melakukan pertemuan beberapa kali dengan
pihak kedutaan dan para alumni Amerika Serikat untuk belajar sedikit tentang
budaya dan kehidupan di Amerika Serikat, khususnya di Washington DC dan San Fransisko.
Pada
28 April 2018, jam 6.00 Wib kami meninggalkan Bandara Soekarno Hatta menuju Washington
Dulles International Airport via Bandar Udara Internasional Haneda Tokyo dan Bandara
Internasional San Fransisko California.
Pada
pukul 24.40 ( Waktu Washington DC),Sabtu(28/4), pesawat United Airlines 0517,
mendarat dengan mulus di Washington Dulles International Airport. Kami yang
berjumlah 14 orang dari Indonesia ini, termasuk dalam 200-an penumpang dalam
pesawat milik Amerika Serikat ini.
Di
tempat pengambilan bagasi, kami bertemu dengan Bryan, Kae Kosasih dan Carles
Wijaya. Bryan adalah orang Amerika yang bekerja di FHI 360 yang menjadi
administrator program sports visitor, sedangkan Kae dan Carles adalah orang
Indonesia yang tinggal di Amerika, dan keduanya bekerja sebagai interpreter
dalam program ini.
Setelah
memastikan semua bagasi diambil, kami berjalan keluar Bandara. Hawa dingin 10
derajat celcius menyambut kami di pintu keluar. Beberapa teman gemeteran,
hingga kembali masuk ke ruang Bandara. Namun tak berlangsung lama, setelah
sebuah minibus dari Awards Limousine Service, berhenti di depan kami, lalu
memasukan barang dan bergegas masuk dan menuju tempat penginapan.
Kurang
lebih 30 menit perjalanan dari Bandara, kami tiba di Churchill Hotel yang
beralamat di 1914 Connecticut Avenue, Washington DC. Lalu briefing beberapa
menit bersama Bryan dan pembagian kunci kamar, selanjutnya menuju kamar
masing-masing dan melepas lelah.
Dengan
fasilitas hotel bintang lima, tubuh yang lelah akibat menempuh perjalanan
kurang lebih 24 jam dari Jakarta, terbayar lunas. Meskipun Jet lag, kami bisa
menyesuaikan dengan program di hari pertama, yakni Tur khusus Washington
DC bersama Ms.Robin Dickey dari Capital Communications Group,Inc.
Tur
khusus ini untuk memperkenalkan ibukota Amerika Serikat, dengan melihat gedung
dan bangunan bersejarah di kota ini untuk memberikan gambaran tentang konsep
demokratis dan menjelaskan proses politik Amerika. Beberapa tempat yang kami
kunjungi diantaranya Gedung Putih ( White House), gedung Capitol, Lincoln
Memorial, dan lain-lain.
![]() |
| Depan Gedung Putih |
Jumlah Penduduk di Washington,DC adalah 632.323.
Washington, DC terletak di pertemuan sungai Potomac dan Anacostia,
antara negara bagian Maryland dan Virginia. Dinamakan atas George Washington
dan Christopher Columbus, kota ini dibuat sebagai pusat pemerintahan federal
oleh suatu undang-undang dari Kongres pada tahun 1790. Pierre L'Enfant, seorang
tantara dan insinyur Perancis, menyusun rencana untuk kota federal. Meskipun
ada réncana besar L'Enfant, kota ini tidak berkembang pesat. Kota ini mengalami
kemunduran besar selama Perang 1812 ketika pasukan Inggris memasuki Washington
dan membakar gedung-gedung pemerintah (ketika kediaman Presiden dibangun
kembali, permukaan bekas kebakaran dicat warna putih, sehingga gedung itu
dinamakan "Gedung Putih").
![]() |
| Jalan-jalan cuci mata...hahaha |
District of Columbia tumbuh perlahan tapi pasti. Pada saat Perang Saudara Meletus pada 1861, kota ini adalah kota yang sibuk dengan 75.000 penduduk. Saat ini, penduduk di dalam kota hanya sekitar 600.000, namun di sekitar Washington - termasuk daerah pinggiran di Maryland dan Virginia - memiliki populasi 5,5 juta orang, menjadikannya wilayah perkotaan terbesar ketujuh di A.S.
Washington berfungsi sebagai ibu kota Amerika Serikat, tetapi
bukan bagian dari negara bagian manapun. Kota ini dikelola oleh Kongres sampai
1974, ketika "home rule" atau pemerintahan oleh walikota dan dewan
kota terpilih disahkan. Penduduk DC diwakili di Kongres oleh delegasi non-
voting yang dapat mengambil bagian dalam hearing, debat, dan fungsi lainnya di
Kongres dan berdasarkan Amandemen UUD ke-23, memiliki perwakilan suara pada
Presidential Electoral College. Namun, karena itu bukan negara bagian, penduduk
DC tidak memÃliki suara di Senat ataupun Dewan Perwakilan.
![]() |
Bisnis utama Washington adalah politik nasional dan internasional. Industri swasta terkemuka adalah pariwisata, dengan 14 hingga 15 juta pengunjung datang ke kota ini setiap tahunnya. Baru- baru ini banyak perusahaan penelitian dan pengembangan di bidang elektronik, fisika, dan ilmu pengetahuan lainnya telah menempatkan diri di wilayah ini. Kota ini juga mengalami pertumbuhan luar biasa di sector keuangan dan internet. Hampir semua dari 500 perusahaan teratas di AS memiliki kantor di sini. Washington juga merupakan pusat pendidikan dan penelitian utama. Di dalam kota ini, ada American University, The Catholic University of America, Georgetown University, the George Washington University, Howard University, The University of the District of Columbia dan Gallaudet University, sebuah universitas terkenal untuk tuna rungu. Selain itu, banyak lembaga penelitian politik, ekonomi, dan medis berlokasi di Washington. National Mall terletak di antara Jalan Constitution dan Independence, membentuk poros kota, dengan gedung Capitol AS di sebelah timur dan Lincoln Memorial di barat. Smithsonian Institution – termasuk Museum Air and Space yang terkenal, Museum Hirschhorn dan Taman Patung, Sackler Gallery of Near East dan Asian Art dan Museum African Art, Freer Gallery, Museum American History, dan Museum Natural History – berbatasan dengan Mall di utara dan selatan. Gedung Putih, Monumen Washington, Galeri Seni Nasional, Memorial Vietnam, dan Arsip Nasional (yang memamerkan Konstitusi AS dan Deklarasi Kemerdekaan asli), Museum Holocaust Memorial AS, dan Monumen Thomas Jefferson juga terletak di atau dekat National Mall.
![]() |
| Hari pertama program bersama Administrator Program FHI360. |
Pada hari Senin(30/4/2018), kami bertemu lagi dengan Ryan dan Evan dari FHI 360, memberikan penjelasan dan hal-hal lain soal administrasi, setelah itu kami mengikuti pemaparan seorang Profesor di bidang Sports Management dari George Mason University, Mrs. Jacqueline McDowell. Wanita cantik, tinggi dan berkulit hitam ini, memaparkan tentang Title IX.
Penelitian
Dr. McDowell berfokus pada isu-isu keragaman dan inklusi dalam organisasi
olahraga dan rekreasi, dengan penekanan pada penyelidikan dan pengembangan
strategi dan program yang dapat diterapkan untuk menghilangkan hambatan untuk
berpartisipasi. Penelitiannya ini menyelidiki kegunaan program olahraga dan
olahraga seumur hidup dalam mengurangi resiko kesehatan.
Nah,
mengenai Title IX, kata Dr. McDowell, adalah Undang-Undang di Amerika Serikat
yang melindungi warganya dari diskriminasi berdasarkan jenis kelamin dalam
program pendidikan atau kegiatan yang menerima bantuan keuangan dari negara.
Undang-Undang ini lahir tahun 1972, namun baru diimplementasikan pada Tahun
1979, yang diberlakukan oleh Kantor Departemen Pendidikan Hak Sipil Amerika
Serikat (OCR).
| Mendengar pemaparan dari Dr. Jacqueline |
Program atletik dianggap sebagai program dan kegiatan pendidikan. Ada tiga bagian dasar dari Title IX yang berlaku untuk atletik di Amerika Serikat, yakni Partisipasi, Beasiswa dan Manfaat lain.
Pertama,
Title IX mensyaratkan bahwa perempuan dan laki-laki diberikan kesempatan yang
adil untuk berpartisipasi dalam olahraga. Title IX tidak mengharuskan institusi
untuk menawarkan olahraga yang identik, namun kesempatan yang sama untuk
bermain.
Kedua,
Title IX mensyaratkan atlit perempuan dan laki-laki menerima jumlah uang
beasiswa atletik yang sebanding dengan partisipasi mereka, dan Ketiga, Title IX
juga mensyaratkan perlakuan yang sama terhadap atlet perempuan dan laki-laki
dalam hal peralatan dan persediaan, penjadwalan pertandingan dan waktu latihan,
perjalanan dan uang saku harian atau per diem, akses ke les, pelatihan, ruang
loker, fasilitas latihan dan persaingan, fasilitas dan layanan medis dan
pelatihan, fasilitas dan layanan tempat tempat tinggal dan makanan, publisitas
dan promosi, layanan dukungan dan perekrutan siswa atlet.
Title
IX Inilah yang berlaku di Amerika Serikat saat ini, jika ada perorangan atau
organisasi yang melanggar, atau ada atlet yang melaporkan, maka pihak yang melakukan
pelanggaran Title IX itu akan diproses hukum.
Nah,
bagaimana dengan Indonesia? apakah ada diskriminasi? apakah perempuan
mendapatkan hak yang sama dengan laki-laki?apakah perempuan mendapatkan
perlakuan yang sama seperti laki-laki? apakah atlet perempuan mendapatkan
perhatian yang sama seperti atlet laki-laki? pertanyaan Dr. McDowell ini,
membuat kami kaget dan saling memandang satu dengan lainnya. Kemudian, beberapa
dari kami memberikan pandangan dan argumen yang variatif tentang
praktek-praktek kesetaraan gender yang terjadi di olahraga Indonesia.
![]() |
| Serius mengikuti sesi |
Agus Salim asal Probolinggo menuturkan, di tempat asalnya ada pembagian jadwal untuk pemakaian kolam renang, namun jadwal untuk perempuan hanya beberapa jam pada hari kamis, sedangkan hari lainnya untuk laki-laki. Dr.McDowell menanggapinya, bahwa hal itu tidak bisa diterima oleh Title IX. Yang diterima Title IX, kalau penggunaan kolam renang untuk laki-laki adalah 2 hari dalam seminggu, maka perempuan juga harusnya 2 hari dalam seminggu.
Mengenai
uang saku atlet perempuan di Indonesia juga tidak terbuka, sehingga tidak bisa
diketahui berapa yang diterima atlet laki-laki dan atlet perempuan.
Pandangan
peserta beragam, namun secara umum yang terjadi di Indonesia adalah masih
adanya diskriminasi terhadap atlet perempuan, baik dalam hal gaji, uang saku,
penggunaan fasilitas dan penjadwalan.
Mrs.
Jacqueline McDowell berharap, kiranya proses perubahan managemen olahraga ke
arah yang lebih baik bisa terus terjadi di Indonesia, terutama adanya keadilan
bagi atlet-atlet perempuan Indonesia.
Setelah
pemaparan Profesor Mrs. Jacqueline McDowell, dosen Sports Management dari
George Mason University, kami melanjutkan pertemuan dengan Emily Kruger dari
Coaches Across Continents (CAC), lalu diskusi bersama Director of Citizen
Exchanges U.S Department of State, Mr. Karl Stolz.
Emily
Kruger membawa kami dalam sebuah permainan di lapangan selama dua jam.
Permainan itu diarahkan pada pengembangan keterampilan sepakbola dengan
pengembangan keterampilan hidup. Emily mnejelaskan, bahwa permainan yang
diberikan merupakan metode dan program CAC yang menggunakan sepakbola untuk
metodologi dampak sosial yang memberikan lingkungan pembelajaran yang aman dan
menyenangkan kepada para remaja di mana mereka bisa mengalami ide-ide baru,
mempraktekkan kecakapan hidup dan membuat pilihan yang sehat.
Emily
memberikan tantangan kepada para peserta untuk memberikan contoh permainan yang
bisa diaktualisasikan dalam kehidupan anak-anak, temanya beragam, ada tentang
saling menghargai, respek, saling bekerjasama untuk mencapai tujuan dan belajar
mengatasi berbagai tantangan dalam hidup dengan berbagai cara.
Permainan
ini sangat dinikmati oleh 14 peserta dari Indonesia, bahkan beberapa pelatih
terlihat sudah sangat familiar dengan tantangan yang diberikan Emily. Tak
heran, karena program CAC ini sudah berjalan di Indonesia dalam 5 tahun
terakhir bersama perkumpulan sepakbola sosial Uni Papua.
Setelah
bersama Emily, kami kembali ke ruangan bertemu Director of Citizen Exchanges
U.S Department of State, Mr. Karl Stolz. Pria yang pernah merasakan
kepemimpinan 4 Presiden Republik Indonesia paskah reformasi ini mampu berbahasa
Indonesia, Malaysia, PNG Fiji dan Rusia. Dirinya memberikan pandangan tentang
pentingnya sports diplomacy dalam mengatasi berbagai konflik di dunia.
Kata
Karl, awalnya divisi sports diplomasi dipertentangkan dan dipertanyakan masuk
dalam Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, tetapi dengan melihat dampak
olahraga yang begitu dasyat menyentuh khalayak umum di seluruh dunia, maka
keberadaan sports diplomasi sekarang menjadi sangat penting sebagai sarana
mengatasi konflik dan sebagai alat diplomasi yang penting.
Ia
berharap, program sports visitor yang digagas pihaknya bersama FHI 360, bisa
memberikan pengalaman terbaik di Amerika kepada pelatih-pelatih Indonesia,
khususnya yang berkecimpung di olahraga sosial, agar memberikan efek bagi
generasi muda Indonesia untuk menjadi generasi yang cerdas, kuat, sehat dan
bertanggung jawab.
Karl
juga berharap, setelah mengikuti program, 14 peserta ini akan menjadi alumni
bergabung bersama ribuan alumni dari program Departemen Luar Negeri Amerika
Serikat, untuk tetap berkarya bagi negara dan memberikan dampak positif bagi
warga dan komunitas di negara masing-masing.
Pertemuan
selanjutnya bersama pemain sepakbola wanita dari Tim Nasional Amerika Serikat,
Ms. Joanna Lohman dan juga mendengar pandangan dari seorang penulis buku dan
kurator dari Sports Exhibit Smithsonian Institute, Mr. Damion Thomas.
![]() |
| Ms. Joana Lohman ( tengah ) pemain timnas Sepakbola Wanita Amerika Serikat |
Pemain timnas sepakbola Wanita Amerika Serikat, Ms. Joanna Lohman memberikan pemahaman dan pandangan tentang rasisme dan olahraga serta posisi LGBT di tim olahraga.
"
Tidak ada perlakuan khusus dan tidak ada pandangan yang miring kepada semua
warga negara Amerika Serikat. Semua warga mempunyai hak yang sama. Orang Amerika
sangat menghormati privasi orang. Dalam dunia olahraga juga demikian, termasuk
soal LGBT itu urusan pribadi," kata Joanna.
Pemahaman
yang salah tentang suku, ras, agama hingga LGBT sudah mulai hilang, karena
pemahaman warga Amerika secara umum sudah modern. Kalaupun ada muncul dalam
beberapa kasus di dunia olahraga, itu sangat cepat direspon Pemerintah, dan
sangsinya besar bagi pihak-pihak yang melakukan perbuatan tidak menyenangkan
kepada orang lain.
Beberapa
pertanyaan dan pandangan 14 peserta terhadap praktek di Indonesia yang
dikatakan masih terjadi, Joanna berharap seiring berjalannya waktu, Indonesia
juga bisa berubah. Pemerintah, hukum dan masyarakatnya harus berjalan bersama
dan berani ditegakkan, sehingga pemahaman-pemahaman yang salah terhadap
keyakinan lain atau kondisi yang berbeda dengan orang lain, hendaknya bisa
diterima dan diperlakukan secara adil.
Pandangan
yang sama juga dikatakan penulis buku dan kurator dari Sports Exhibit
Smithsonian Institute, Mr. Damion Thomas. Dalam pandangannya, dan
pengalamannya, semua orang di Amerika bisa menerima keadaan orang lain,
membantu orang lain dan menerima perbedaan yang terjadi. Meskipun ada beberapa
kasus, tetapi itu bisa diselesaikan dan presentasenya sangat kecil. Ia
berpandangan, bahwa apa yang terjadi di Indonesia, bisa dirubah, hanya memang
butuh waktu yang lama. Karena itu, dia berharap, nilai-nilai positif yang
diterima dari program ini, bisa disampaikan dan disebarkan di Indonesia, agar
membantu proses pemahaman yang baik terhadap keberagaman.
| Bertemu Ms. Joana di lapangan bola Maryland SoccerPlex |
Tidak hanya dalam ruangan, kami juga berkesempatan melihat langsung Joanna Lohman dan timnya (Washington Spirit ) berlatih. Kunjungan itu sangat berkesan, karena bisa mengunjungi pusat pelatihan tim sepakbola wanita dari klub Washington Spirit di Maryland SoccerPlex yang sangat luas, suatu areal yang indah, terpencil dan memiliki kurang lebih 17 lapangan sepakbola yang tertata rapi.
Selain
melihat Joanna dan rekan-rekannya berlatih, kami berkesempatan
berbincang-bincang dengan Kepala Pelatih Washington Spirit, Jim Gabarra, dan
para asistennya, Briana Scurry dan Tom Torres. Mereka juga menunjukkan
teknologi yang digunakan untuk mengukur kemampuan tiap pemainnya dalam sesi
latihan. Alat itu dipasang seperti gelang di pergelangan tiap pemain dan satu
alat lagi melingkar di tubuh tiap pemain, dan dipantau menggunakan monitor Ipad
oleh seorang asisten pelatih. Ya, itu salah satu hal yang membuat kami
terkesima.
Washington
Spirit, selain diperkuat pemain lokal dari Amerika Serikat, mereka juga
memiliki sejumlah pemain asing dari Afrika, Eropa dan Amerika Latin. Jujur,
kami semua terkesima melihat mereka berlatih, kemampuan dribling, menendang
bola, passing, lari dan daya tahan tubuh nampak seperti atlet pria. Saat ini
mereka berada diperingkat 8 klasemen sementara dari 9 tim di Liga NWSL Amerika
Serikat.
Selasa(1/5), kami berkesempatan mendapat ilmu
dari Kaimana Chee, seorang fasilitator berpengalaman dan kharismatik yang
menambahkan wawasan pada konsep perencanaan tindakan berdasarkan lima fase
model CAPES yang telah dirancang untuk memastikan pemahaman dasar teoritis dan
praktis untuk melaksanakan proyek.
CAPES
adalah singkatan dari Consider Analyze, Plan, Evaluate dan Sustain. Dapat
diartikan sebagai suatu tahapan yang dimulai dari pertimbangan dengan berpikir
secara kritis dan mendiskusikan masalah-masalah, lalu menganalisa
masalah-masalah yang akan terjadi, membuat rencana yang rinci, mengevaluasi dan
memastikan keberlangsungan proyek yang menguntungkan.
Rabu(2/5), kami juga bertemu dengan
Mr.Besheer Mohamed, seorang peneliti senior dan rekannya dari PEW Research
Center yang menjelaskan hasil penelitian mereka tentang perkembangan Islam di
Amerika.
Setelah
dari PEW RC, kami berjalan kaki ke Kedutaan Besar Republik Indonesia, bertemu
dengan sejumlah warga Indonesia yang bekerja di kantor kedutaan, berdiskusi dan
melihat ruangan-ruangan yang bersejarah dari gedung itu.
Theodorus Satrio Nugroho, mewakili Duta Besar Indonesia di Washington DC, dalam sambutannya memberikan apresiasi yang tinggi kepada FHI 360 dan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, karena menginisiasi program sports visitor. Dirinya berpesan, agar 14 orang pelatih yang mengikuti program itu dapat mengimplementasikan ilmu dan pengalaman yang diterima di Amerika itu kepada komunitas dan anak-anak di Indonesia. Setelah bertatap muka dan mendengar pesan dan kesan dari perwakilan peserta program sports visitor, kami diberi kesempatan untuk melihat beberapa sudut dari gedung yang menjadi kantor kedutaan Indonesia di Washington DC itu. Kunjungan ke kantor Kedutaan RI itu, merupakan kegiatan terakhir kami di Washington DC, sebelum pagi harinya terbang dengan pesawat ke San Fransisko California untuk menjalani rangkaian program lainnya.
Tentang
San Fransisko
Jumlah Penduduk di San Fransisko adalah 812.000, lebih banyak dari Washington ,DC.
San Fransisko terkenal akan keindahannya dan keramahannya yang
terbuka. Ini juga merupakan pusat keuangan dan asuransi utama, pelabuhan
internasional, dan pintu gerbang ke Silicon Valley, pusat teknologi tinggi
utama Amerika. Karakter kota, yang dianggap tidak biasa, santai, dan inovatif,
sebagian besar berasal dari sejarahnya sebagai pertambangan dan kota
perdagangan yang tangguh yang tertarik ke pantainya yang penuh dengan jiwa
petualang dan keras dari seluruh dunia. Populasinya yang heterogen, iklim yang
sejuk, restoran yang bagus, toko yang modis, stan bunga pinggir jalan, dan
kereta kabel yang berdenting membuat San Fansisko luar biasa menawan, dengan
ketinggian yang berbeda dari permukaan laut sampai 938 kaki di atasnya, kota
berpenduduk 800.000 jiwa ini terletak di sejumlah bukit di ujung semenanjung
sempit yang dibatasi di satu sisi oleh Samudera Pasifik dan di sisi lain oleh
Teluk San Fransisko, salah satu pelabuhan darat terbesar di dunia.
Menghubungkan teluk dengan laut adalah Golden Gate, yang dilalui oleh Jembatan
Golden Gate. Baik kota maupun kabupaten, San Fransisko merupakan pusat keuangan
di Pesisir Pasifik, lokasi kantor pusat yang penting, dan pelabuhan yang
penting.
Wilayah anggur Napa Valley di utara kota dan "Silicon Valley," sebuah pusat industri elektronik, adalah di selatan. Sepanjang pantai ada jalan raya nan cantik Highway 1, di mana tebing tinggi dan pantai yang indah menarik para wisatawan dan penduduk setempat.
San Fransisko diatur oleh bentuk pemerintahan dewan kota. Ini
adalah satu-satunya kota di Kalifornia yang juga merupakan county/kabupaten. Lembaga
pendidikan utama termasuk University of San Fransisko, Stanford University, San
Fransisko State University dan the University of California at Berkeley.
Tempat-tempat wisata kota ini meliputi Jembatan Golden Gate, Fisherman's Wharf,
Ghirardelli Square, Embarcadero Center, Alcatraz Island, dan Lombard Street.
San Fransisko memiliki populasi penduduk Asia dan Pasifik yang
besar di samping populasi Afrika-Amerika, Latin, dan kulit putih. Sejak
dahulunya, San Fransisko telah menjadi pusat perdagangan dan pengiriman
penting. Barang impor utama adalah minyak mentah dan produk minyak bumi,
diikuti oleh produk pertanian. Perang Dunia Ke-2 memulai ledakan permintaan di
industri pertahanan, menghasilkan industry teknologi tinggi yang terus
berkembang. Industri kedirgantaraan dan ilmu kedokteran adalah industry
berteknologi tinggi yang sedang berkembang.
San Fransisko adalah pusat awal untuk perdagangan kulit binatang,
perburuan ikan paus, penangkapan binatang liar, dan penambangan emas dan perak.
Gold Rush pada 1849 memacu pertumbuhan cepat yang mengarah pada pendirian kota
pada 1850. Pengusaha awal San Fransisko seperti Collis P. Huntington, Leland
Stanford, Charles Crocker dan Mark Hopkins membiayai kereta api lintas benua,
yang berkontribusi pada kemakmuran kota.
Jumat 4 Mei, kita memulai program pertama di
San Fransisko dengan mengunjungi salah satu Kampus terkemuka di dunia, UC
Berkeley, dan berjumpa dengan Program Director UC Berkeley Center for
Restorative Justice, Ms. Julie Shackford-Bradley dan rekannya Jonathan. Mereka
memberi penjelasan tentang Restorative Justice (RJ) yang diterapkan di Amerika
Serikat. Menariknya, konsep RJ ini diambil dari negara-negara pasific, termasuk
di Papua. Konsep RJ adalah salah satu resolusi konflik yang ditawarkan dalam
menangani dan menyelesaikan konflik-konflik di sekolah, baik konflik antara siswa
dengan Guru, atau antara siswa dan siswa hingga yang melibatkan orang tua
siswa.
"
Banyak konflik yang terjadi di sekolah langsung dilaporkan ke Polisi, bahkan
sampai ke pengadilan, dengan menghabiskan waktu dan biaya, serta menyebabkan
dampak buruk lainnya bagi anak-anak yang terlibat konflik. Karena itu, RJ ini
lahir memberikan solusi yang baik dalam menyelesaikan konflik di sekolah,"
kata Ms. Julie.
Konsep RJ juga dipakai oleh tim sepakbola, dan hasilnya sangat membanggakan. Angka kelulusan meningkat setelah menggunakan konsep RJ, demikian juga prestasi tim meningkat setelah menggunakan konsep RJ.
Ray
Finn dari Evergreen State College bahkan mengakui keunggulan konsep RJ. Melalui
video confrence, Ray menceritakan bagaimana dia menjalankan konsep RJ di
timnya, sehingga terjadi hal positif dalam timnya.
Selanjutnya,
kami melakukan pertemuan dengan dua orang pelatih penyandang cacat dari Bay
Area Outreach and Recreation Program (BORP). Kami mendengar cerita mereka
tentang tantangan yang dihadapi dalam melatih anak-anak disabilitas. Pengalaman
itu memberikan pemahaman bagi kami untuk melakukan hal yang sama dalam
menangani atlet-atlet disabilitas.
Sabtu 5 Mei,
kami berkesempatan menonton pertandingan sepakbola profesional liga MLS antara
San Jose Earthquake vs Portland Timbers di Stadion Avaya San Jose. Kunjungan
ini membuat saya bahagia, karena bisa menyaksikan secara langsung dua tim
sepakbola profesional di Amerika bertanding, melihat suasana stadion dan konsep
pengelolaan stadion yang menggabungkan olahraga, rekreasi dan kuliner.
Senin 7 Mei,
Ms. Kathy Toon, seorang Pelatih dari Aliansi Pelatihan Positif
memberikan
penjelasan bagaimana menggunakan Kepositifan di dalam Pelatihan olahraga.
Dirinya
memberi pemahaman bahwa pendekatan positif bisa didapatkan secara maksimal dari
atlit remaja dan tingkat SMA, dan inilah yang inginkan oleh para pelatih, orang
tua, dan atlit sendiri.
Tetap
mempunyai rasa positif juga membantu para remaja mendapatkan hal yang maksimal
dari olahraga. Menyemangati atlit dengan penekanan yang positif
membantu
mereka mendengar dan memperbaiki hal-hal yang dibutuhkan. Dengan kombinasi yang
efektif antara kejujuran, pujian tertentu, dan kritik yang
membangun,
prestasi atletik bisa ditingkatkan dan juga kesempatan untuk anak
tersebut
selalu tetap berolahraga dan belajar semua pelajaran kehidupan yang
berharga
yang secara alamiya tersedia melalui kompetisi yang terorganisir.
Setelah
itu, kami bertemu dengan Kepala Training, Up2Us Sports, Dre De La Peza
yang
mempraktekan olahraga untuk membantu trauma dan konflik
Berakar
dalam pengembangan otak dan penelitian desain organisasi, pelatihan ini berfokus
pada strategi yang membantu program menyediakan ruang yang aman bagi para
pemuda yang mengalami trauma.
Selasa 8 Mei,
Kami mengikuti kegiatan team building yang dipandu oleh Pasific Leadership
Institute di lokasi Golden Gate Park Ropes Course. Di sini, fisik, emosional
dan mental diuji untuk kami belajar mendorong pengembangan tim, dukungan,
kepercayaan, kepemimpinan dan penetapan tujuan pribadi.
Sore
harinya, kami bertemu seorang pelatih dari USA Soccer, Ramire Rodriguez, dia
memberikan pemahaman dasar dalam melatih anak-anak tingkat grassroot, lalu
melihat prakteknya bersama tim sepakbola wanita U-16.
Rabu 7 Mei,
kita menjadi relawan di Program BAWSI
Roller dari Bay Area Women's Sports Initiatives.
Program
BAWSI Roller memberikan kegiatan fisik yang menyenangkan, adaptif
untuk
anak taki-taki dan perempuan yang mempunyai disabilitas fisik, kognitif,
dan
pendengaran. Melalui kurikulum yang menyenangkan dan aktif yang meliputi pertandingan
seperti bola basket, sepakbola, dan permainan ikan hiu dan ikan kecil, program
BAWSI Roller membantu peserta mengembangkan koordinasi tangan-mata, kekuatan,
kepercayaan diri, dan rasa kemandirian. Sesi mingguan termasuk kegiatan-kegiatan
yang memusatkan pada aturan tujuan, kerja tim, dan persaingan sehat, juga percakapan
yang penuh semangat tentang rasa hormat diri sendiri, tanggung jawab, dan
kepemimpinan.
Setelah
itu berbincang-bincang dengan Jennifer Smith, Presiden Direktur BAWSI
yang
menceritakan bagaimana dirinya membangun organisasi itu dan melaksanakan
program-programnya, terutama dalam penggalangan dana.
Selanjutnya
kami mengunjungi Oakland International High School, melihat fasilitas olahraga
di sekolah itu dan mendengar program-program yang telah dilakukan di sekolah
itu bersama Cormac Kilgallen, dekan siswa OIHS.
Kemudian
ke Soccer Without Borders dan bertemu Mr. Gucciardi dan timnya. Ben
menceritakan bagaimana mereka memfokuskan energinya dalam pengembangan pemuda
melalui sepakbola. Ben juga menceritakan bagaimana mereka mendobrak hambatan
untuk berpartisipasi untuk pemuda yang kurang terlayani di masyarakat, dengan
pendekatan unik dan kekuatan sepakbola.
Kamis 10 Mei,
kami bertemu dengan Profesor Jacquelyn Horton dari University of San Fransico. Professor Horton adalah direktur USF Speaking
Center dan seorang instruktur di Fakultas Retorik dan Bahasa. Dia memberikan
tips kepada kami, bagaimana bisa tampil dan berbicara dimuka umum dengan baik.
Jumat,11 Mei
kami mempresentasekan rencana tindak lanjut
Sabtu,12 Mei
kami kembali ke Indonesia.
Saya menyampaikan penghargaan yang tinggi dan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada Kedutaan Besar Amerika Serikat di Indonesia, karena telah memberikan kesempatan kepada saya untuk mengikuti program sports visitor ke Washington DC dan San Fransisko Amerika Serikat.
Terus
terang, menginjakkan kaki di Amerika Serikat itu seperti mimpi yang jadi
kenyataan. Ini adalah sejarah dalam hidup saya dan akan selalu saya kenang dan
banggakan.
Beberapa
yang saya suka di Amerika itu adalah kotanya yang bersih, ada jalan untuk
pejalan kaki, lalu lintas yang tertib, jarang melihat kendaraan roda dua, ada
ruang terbuka hijau, ada banyak taman, ada banyak sarana olahraga untuk publik
dan banyak pilihan makanannya, apalagi Hamburger dan Sandwishnya.
Mengenai
program ini, sangat berguna bagi saya, karena telah memberikan tambahan
pengetahuan, tambahan metodologi dan informasi menarik lainnya, yang sebelumnya
tidak pernah saya bayangkan, untuk diterapkan dalam komunitas dan anak-anak
yang dibina.
Tentang Program Sports Visitor
U.S. Department of State (Departemen Luar Negeri Amerika Serikat)
membantu membentuk dunia yang lebih bebas, lebih aman, dan lebih sejahtera
dengan merumuskan, mewakili, dan menerapkan kebijakan luar negeri Presiden.
Menteri Luar Negeri adalah penasihat utama Presiden mengenai kebijakan luar
negeri dan orang yang terutama bertanggung jawab untuk Perwakilan Amerika
Serikat di luar negeri.
Biro Urusan Pendidikan dan Kebudayaan (ECA) mendorong saling
pengertian antara Amerika Serikat dan negara-negara lain melalui pertukaran
pendidikan, professional, dan budaya internasional. Kantor ini mempromosikan
hubungan pribadi, professional, dan kelembagaan antara warga dan organisasi
swasta di Amerika Serikat dan di luar negeri, dan menyajikan sejarah,
masyarakat, seni, dan budaya A.S. dalam semua keragamannya bagi khalayak luar
negeri.
Sports Diplomacy merupakan bagiann integral dari upaya untuk
membangun hubungan yang semakin kuat antara Amerika Serikat dan negara-negara
lain. Diplomasi olahraga menggunakan semangat universal untuk berolahraga
sebagai cara untuk mengatasi perbedaan linguistic dan sosiokultural dan
menyatukan orang-orang. Partisipasi dalam olahraga mengajarkan kepemimpinan,
kerja tim, dan keterampilan komunikasi yang membantu para pemuda berhasil di
semua bidang kehidupan mereka.
Divisi Sports Diplomacy ECA memanfaatkan kemampuan olaraga untuk
meningkatkan dialog dan pemahaman budaya antar orang-orang di seluruh dunia.
Divisi ini menggunakan olahraga sebagai platform untuk mengekspos peserta dari
luar negeri kepada kebudayaan Amerika sambil memberi mereka kesempatan untuk
menjalin hubungan dengan para professional dan rekan olahraga di A.S.
Sebaliknya, orang Amerika belajar tentang budaya asing dan
tantangan yang dihadapi kaum muda dari negara lain saat ini. Divisi Sports
Diplomacy telah melibatkan ribuan orang dari lebih dari 100 negara di dalam
pertukaran olahraga ini.
Program Sports Visitor adalah program pertukaran internasional
berbasis olahraga yang mewakili keunggulan, kepemimpinan, dan
pelajaran-pelajaran penting dari Amerika yang dipelajari dalam olahraga secara
luas- dari taman bermain hingga liga professional. Para peserta program ini
adalah atlit muda, pelatih, dan pengurus yang melakukan perjalanan ke Amerika
Serikat untuk pertukaran budaya olahraga yang padat namun singkat. Selama
program berjalan, mereka terlibat dengan rekan-rekan dan praktisi olahraga
Amerika, berpartisipasi di klinik dan sesi kepemimpinan, membangun tim dan
resolusi konflik, serta pada inklusi dan kesetaraan dalam olahraga. Program ini
menunjukan kepada para pemuda bagaimana keberhasilan dalam atletik dapat
diartikan menjadi prestasi di kelas dan kehidupan. Mereka juga memberi Amerika
kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan orang-orang dari setiap wilayah
di dunia.
Administrator Program: FHI 360
FHI 360 adalah organisasi pengembangan global
nirlaba mandiri yang berkomitmen untuk menangani
kebutuhan pembangunan manusia di Amerika Serikat dan di seluruh dunia, FHI 360
menjalankan program-programnya bersama dengan
para pemimpin kebijakan; komunitas akademisi,
lembaga swadaya masyarakat; para pengusaha, dan instansi pemerintah. Dalam
kemitraan dengan kliennya, FHI 360 berusaha
untuk memenuhi tantangan sosial, ekonomi, dan lingkungan saat ini melalui penelitian, teknologi, manajemen, analisis
perilaku, dan teknik pemasaran sosial
untuk memecahkan masalah; dan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan di seluruh dunia sebagai sarana yang
paling berpengaruh untuk merangsang pertumbuhan,
mengurangi kemiskinan, dan mempromosikan cita-cita demokrasi dan kemanusiaan.
Para staf Global Connections merancang dan
mengelola kegiatan pertukaran Pendidikan dan protessional dengan mitra di sektor publik dan swasta. Global
Connections telah merancang dan melakukan
program pertukaran dalam berbagai topik termasuk olahraga; pertumbuhan ekonomi;
administrasi peradilan dan supremasi hukum;
demokrasi akar rumput; pemerintah federal, negara bagian, dan kota; kajian Amerika; masalah imigrasi dan
perbatasan; dan pendidikan kewarganegaraan.
Oleh
: Alberth Yomo























Comments
Post a Comment