| 26 Pendeta se-Kota Jayapura, beberapa saat setelah tiba di Bandara Internasional Soekarno Hatta, Jakarta, selanjutnya pada malam hari berangkat ke Israel. |
"Kehilangan
Bagasi dan Terpisahnya Satu Anggota Group
di Queen Alia International Airport"
Pemerintah Kota Jayapura, di bawah kepemerintahan Benhur Tomi Mano, memberikan perhatian istimewa kepada pemuka-pemuka Agama di Kota Jayapura. Perhatian istimewa itu dalam bentuk program Umroh bagi pemuka agama Islam dan Ziarah Holyland bagi pemuka Agama Kristen.
![]() |
| Grup Pendeta Kota Jayapura, saat berada di Gunung Nebo, melihat Panorama ke arah Tanah Perjanjian, sebagian Laut Mati dan sebagian dari lembah Sungai Jordan.(yomo) |
"Beruntung Cuaca Baik, Jadi Bisa Memandang Hingga ke Tanah Perjanjian"
Dipandu oleh Jolitas Tour & Travel serta guide lokal bernama Ahmad, grup Pendeta dari Kota Jayapura ini langsung menuju Gunung Nebo, melihat dari dekat jejak Nabi Musa yang diceritakan dalam Alkitab (Kitab Suci Agama Kristen).
Gunung Nebo terletak di bagian barat negara Jordan dan memiliki ketinggian sekitar 817 meter diatas permukaan laut ( 2.680 kaki ). Dari atas gunung ini kita dapat melihat Panorama ke arah Tanah Perjanjian, sebagian dari lembah Sungai Jordan serta salah satu kota di daerah Tepi Barat, yakni Jericho. Panorama ini umumnya dapat terlihat dengan baik bila cuaca tidak berkabut.
Beruntung bagi grup ini, karena ketika tiba di gunung Nebo, cuaca cukup cerah, sehingga pemandangan ke tanah perjanjian, sungai Yordan, Laut Mati, Jerikho dan tempat-tempat lainnya bisa dilihat dengan jelas. " Lebih bagus lagi kalau ada hujan sedikit, itu bisa lihat dengan bersih dan jelas. Tapi di sini jarang sekali turun hujan," kata Ahmad.
Menurut Kitab Ulangan, Gunung Nebo merupakan tempat dimana Nabi Musa hanya dapat memandang ke arah Tanah Perjanjian karena Tuhan tidak mengizinkannya untuk masuk ke sana. "Naiklah ke atas pegunungan Abarim, ke atas gunung Nebo, yang di tanah Moab, di tentangan Yerikho, dan pandanglah tanah Kanaan yang Kuberikan kepada orang Israel menjadi miliknya, kemudian engkau akan mati di atas gunung yang akan kaunaiki itu, supaya engkau dikumpulkan kepada kaum leluhurmu, sama seperti Harun, kakakmu, sudah meninggal di gunung Hor dan dikumpulkan kepada kaum leluhurnya oleh sebab kamu telah berubah setia terhadap Aku di tengah-tengah orang Israel, dekat mata air Meriba di Kadesh di padang gurun Zin, dan oleh sebab kamu tidak menghormati kekudusan-Ku di tengah-tengah orang Israel. Engkau boleh melihat negeri itu terbentang di depanmu, tetapi tidak boleh masuk ke sana, ke negeri yang Kuberikan kepada orang Israel." (Ulangan 32 : 49-52)
Sesuai dengan tradisi Yahudi dan Kristen, Gunung Nebo merupakan tempat peristirahatan terakhir dari Nabi Musa. Dan dipercaya di tempat inilah Nabi Musa dikuburkan oleh Tuhan sendiri, walaupun sampai saat ini kuburan tersebut tidak ditemukan. Ada yang mempercayai juga bahwa dari tempat ini Nabi Musa diangkat ke surga oleh Tuhan.
Tepat di puncak Gunung Nebo ini kita melihat Syagha, sisa dari Gereja dan Biara yang ditemukan kembali pada tahun 1933. Gereja ini aslinya dibangun pada pertengahan abad ke 4 untuk mengenang tempat kematian dari Nabi Musa. Model dari Gereja ini dirancang dengan gaya Basilika. Pada tahun 597 Gereja ini dibangun kembali serta diperbesar. Cerita mengenai Gereja di Gunung Nebo terdapat dalam catatan seorang peziarah wanita bernama Aetharia dari tahun 394. Terdapat 6 makam yang ditemukan di dalam gereja ini yang tertutup oleh lantai mosaik bergaya Bizantium yang indah.
Pada tanggal 19 Maret tahun 2000 Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II berkunjung ke tempat ini dalam rangkaian peziarahannya ke Tanah Perjanjian (Gunung Nebo merupakan salah satu situs Kristen yang penting di Jordania). Beliau menanam pohon zaitun di samping Gereja sebagai symbol perdamaian.
Di atas Gunung Nebo peziarah juga dapat melihat simbol tiang salib besar dari perunggu (yang dibuat oleh seniman Italia bernama Giovanni Fantoni). Simbol ini menandakan tiang dililit ular tembaga yang dibuat oleh Musa (bdk. Bilangan 21:4-9) serta juga sebagai simbol salib Yesus sebagai anak manusia yang harus ditinggikan : “Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:14).
Kisah tiang ular dari tembaga ini adalah dimana waktu zaman Nabi Musa para pengikutnya umat Israel yang dibawa keluar dari Mesir mereka menggerutu berkata “Mengapa kamu mempimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati dipadang gurun ini? Sebab disini tidak ada roti dan tidak ada air, dan akan makanan hambar ini kami telah muak”. Mereka tidak puas dan tidak mengucap syukur.
Sebab itu Tuhan kemudian memerintahkan ular-ular tedung untuk memagut umat Israel, sehingga sebagian dari mereka mengalami kematian. Kemudian umat Israel menyadari akan perbuatan dosanya, lalu mereka datang kepada Nabi Musa untuk meminta perlindungan. Nabi Musa pun berdoa kepada Tuhan dan Tuhan mendengarkan doanya, lalu Tuhan memerintahkan Musa untuk membangun tiang dengan ular tembaga.
Barangsiapa yang memandang ular tembaga tersebut maka mereka akan sembuh dan terhindar dari pagutan ular-ular dan menjadi selamat. Saat ini tiang ular tembaga yang aslinya sudah tidak ada, karena oleh Raja Hizkia telah ditebang dan dihancurkan, karena pada waktu itu kian lama tiang ular tembaga tersebut menjadi obyek penyembahan seperti disertai dengan bakaran korban, dan tiang ular tembaga itu pun diberi nama Nehustan. Jadi yang sekarang dilihat bukan tiang ular tembaga yang asli, melainkan karya dari seniman Italia.
Karena sohornya kisah Nabi Musa soal penyembuhan dengan membuat tiang ular tembaga, menjadikan simbol resmi keberadaan sebuah apotek. Simbol itu yang kini dipakai para apotek-apoteker yang ada sekarang mereka hampir semua menggunakan simbol ular tembaga dengan berbagai kreasi untuk logonya. Tentunya dengan menyamakan persepsi penyembuhan dengan simbol ular tembaga, harapan para apoteker sebagai penyedia obat-obatan dapat menyembuhkan segala penyakit pagi para penderita/pasien.
Setelah melihat jejak Nabi Musa di Gunung Nebo, kami melanjutkan perjalanan memasuki wilayah Israel. Sampai di perbatasan Israel, kami berpisah dengan Ahmad yang adalah warga Yordania. Dan setelah melalui pemeriksaan imigrasi yang berjalan dengan lancar, kami menggunakan bus yang berbeda,melanjutkan perjalanan menuju Kota Betlehem, tempat peristrahatan.
![]() |
| Doa Bapa Kami dalam bahas Biak, Papua |
Terdapat juga
doa Bapa Kami dalam Bahasa Biak dan Paniai
Setelah
melalui perjalanan panjang dari Yordania, tepat pukul 19.00 waktu setempat,
kami akhirnya tiba di Shepherds House Hotel, sebuah hotel mungil di pinggir
Kota Betlehem. Dilanjutkan dengan makan malam bersama dan istirahat melepas
lelah. Hari berikutnya, kami mulai melakukan ziarah rohani ke sejumlah
tempat-tempat bersejarah di Yerusalem dan sekitarnya.
Tempat pertama yang kami tuju adalah Bukit Zaitun, yang berada sebelah timur kota Yerusalem yang terbentang sejajar dengan bukit Bait Suci, tetapi terpisah daripadanya dengan Lembah Kidron. Inilah Bukit Zaitun dengan 3 puncaknya.
Gereja Pater Noster yang ada sekarang ini adalah gereja yang ketiga. Gereja yang pertama didirikan oleh Kaisar Konstantin pada awal abad ke 4. Tahun 614 dihancurkan oleh pasukan Persia. Pada abad ke-12 para Pejuang Salib membangun lagi sebuah gereja di tempat yang sama, namun ketika mereka meninggalkan Jerusalem, gereja ini dihancurkan oleh penguasa Islam, lalu tanahnya dijadikan milik mereka. Pada tahun 1868 tempat ini dibeli oleh soerang wanita bangsawan Perancis, Puteri Aurelia de Bossi. Gereja yang sekarang berdekatan dengan biara Suster Karmelit yang didirikan pada tahun 1875.
Setelah dari Gereja Pater Noster, kami menuruni lereng Bukit Zaitun dan melihat pekuburan Yahudi yang paling tua dan paling besar, dan paling mahal di seluruh dunia. Yang dikuburkan di sini bukan hanya orang Yahudi dari Jerusalem saja atau dari tempat-tempat lain di Tanah Suci, melainkan juga dari tempat-tempat lain di seluruh dunia.
![]() |
| Ketika berada di Taman Getsemani |
Dulu seluruh Getsemani dikelilingi tembok yang disusun
dari batu-batu. Taman itu penuh dengan pohon-pohon zaitun. Ada pula sebuah gua
yang dipakai untuk bermalam serta peralatan untuk memproduksi minyak. Pada
malam menjelang wafatnya, Yesus memasuki Getsemani dan menyuruh para rasulnya
menunggu di gua, katanya, “Duduklah di sini, sementara Aku pergi ke sana untuk
berdoa” (Mat 26:36).
Pada malam itu, Yesus mengalami sejenis sakratulmaut
yang dahsyat. Ia berdoa : “Ya Bapa-ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini
dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang
terjadi”(Luk 22:42). Peristiwa ini digambarkan di atas altar utama Gereja
Getsemani. Karena sangat tertekan, Yesus didatangi seorang malaikat yang
menguatkannya. Ia sangat menderita secara batin sehingga ia makin
sungguh-sungguh berdoa. Keringatnya seperti darah menetes ke tanah (Luk
22:42-44).
Menurut laporan Eteria yang berziarah ke Tanah Suci
pada abad IV, di kaki Bukit Sion sejak dahulu ada sebuah gereja di tempat Yesus
berdoa. Gereja kedua berdiri di tempat adanya gua. Tidak jauh dari gua itu
Yesus didatangi Yudas yang menciumnya. Sesudah itu Yesus ditangkap dan dibawa
kepada Mahkamah Agama Yahudi. Pada saat ini di Taman Getsemani ada delapan
pohon zaitun yang sudah sangat tua sekali.
Diperkirakan umur delapan pohon ini sudah lebih
dari 3000 tahun. Jadi dapat dipastikan bahwa pada saat Yesus berdoa menghadapi
sakrat mautNya di Taman ini pada hari "Kamis Malam", pohon-pohon
tersebut sudah ada disana dan menjadi saksi akan perstiwa tersebut. Ke
delapan pohon zaitun tersebut masih tetap berbuah sampai saat ini.
![]() |
| Ketika berada di Yerusalem, bersama Polisi Israel |
Hari berikutnya, kami mengunjungi Qumran, tempat ditemukannya gulungan kitab suci. Sore hari kami ke laut mati di sisi Israel, sambil bersantai dan mengapung di laut mati.
Setelah itu lanjut ke Nazareth tempat tinggal keluarga Joseph, Maria dan Yesus, serta melihat Gereja Kabar Gembira (Luk. 1:26-38). Lalu kita ke Kana tempat mujizat pertama Yesus mengubah air menjadi anggur (Yoh. 2:1-11). Misa Kudus untuk memperbaharui janji pernikahan bagi pasangan suami-istri.
![]() |
| Ketika berada di areal Pekuburan Raja-Raja Mesir yang dikenal dengan sebutan Piramida |
Setelah dari sungai Yordan, perjalanan dilanjutkan ke perbatasan Israel dan Mesir, meninggalkan Israel dan masuk ke wilayah Mesir, dan malam hari mendaki gunung sinai, tempat nabi Musa menerima 10 Hukum Tuhan. Diakhir tour, tim diajak berkeliling di areal Piramida Mesir serta sejumlah situs bersejarah di Mesir, lalu malam hari ke Bandara untuk selanjutnya kembali ke tanah air.*)












Comments
Post a Comment