Skip to main content

Hermus Indou dari Penggembala Sapi Menjadi Bupati

Tak ada yang menduga ketika seorang penggembala sapi bahkan pembantu penjual pisang goreng dan penjual es lilin di sekolah, kini menjadi seorang Bupati? Ya, dialah Hermus Indou, yang saat ini menjadi Bupati Kabupaten Manokwari periode 2021-2024.  “Saat masih kecil dulu, saya menjadi penggembala sapi, juga menjadi tukang pegang termos air panas dari penjual pisang goreng yang menjual es lilin di SMP Negeri Warmare,” cerita Bupati Manokwari, Hermus Indou tentang masa kecilnya.  Tak hanya itu, ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Manokwari, Hermus Indou menjadi pesuruh dari teman-teman sekolahnya untuk membeli sesuatu di luar sekolah. “Saya biasa disuruh teman-teman untuk beli pisang goreng. Setelah beli pisang goreng itu, saya juga dapat jatah, sehingga bisa makan pisang goreng juga,” kenangnya. Hal ini dilakukan Hermus Indou muda, agar dirinya tidak kelaparan di sekolah. Karena pada masa itu, adalah masa-masa yang sangat sulit baginya untuk mendapatkan ua...

Berkunjung ke Yordania, Israel dan Mesir – Catatan Perjalanan 2017


26 Pendeta se-Kota Jayapura, beberapa saat setelah tiba di Bandara Internasional Soekarno Hatta, Jakarta, selanjutnya pada malam hari berangkat ke Israel.


"Kehilangan Bagasi dan Terpisahnya Satu Anggota Group  di Queen Alia International Airport"

Pemerintah Kota Jayapura, di bawah kepemerintahan Benhur Tomi Mano,  memberikan perhatian istimewa kepada pemuka-pemuka Agama di Kota Jayapura. Perhatian istimewa itu dalam bentuk program Umroh bagi pemuka agama Islam dan Ziarah Holyland bagi pemuka Agama Kristen.

 Herry Usulu, reporter RRI Jayapura yang mendapat kesempatan itu, justru memberikan tiketnya kepada saya untuk mendampingi group Ziarah Holyland ke Israel yang terdiri dari 26 Pendeta Kristen se-Kota Jayapura. Reporter senior RRI Jayapura ini memberikan tiketnya kepada saya, katanya sebagai balas jasa, karena sebelumnya saya memfasilitasi dirinya bisa menginjakkan kaki di Jerman, Luxenburg, Perancis, Belgia dan Belanda.

 -------------------------------------------------------------------

 Pesawat Air Bus 330 seri 200 milik perusahaan penerbangan Etihad Airways asal Uni Emirat Arab yang mampu menampung 250 orang ini, mendarat dengan mulus di Queen Alia International Airport, di Amman ibukota Yordania, Senin(6/11). Suhu di luar dilaporkan 21 derajat celcius, dan waktu setempat menunjukkan pukul 12.30 siang atau 7 jam lebih lambat dari waktu di Papua.

 Satu per satu penumpang mulai keluar dari pintu pesawat yang terhubung dengan garbarata, langsung ke terminal kedatangan Queen Alia International Airport. 26 orang penumpang diantaranya adalah para Pendeta asal Kota Jayapura, ditambah dua orang dari pihak travel dan wartawan HPP.

 Setelah melalui pemeriksaan imigrasi, group diarahkan menuju ke tempat pengambilan bagasi. Beberapa menit di tempat pengambilan bagasi, ternyata ada satu bagasi yang hilang, yaitu miliknya ibu Pendeta Sukarni Parede. Perjalanan tim sedikit terhambat, karena pihak travel langsung menghubungi pihak maskapai untuk menanyakan bagasi yang hilang itu.

 30 menit menunggu, diperoleh jawaban dari pihak maskapai, jika bagasi milik Pendeta Sukarni terbawah oleh pesawat lainnya saat transit di Abu Dhabi, dan barangnya akan diperoleh setelah tim balik ke Indonesia. Sebagai rasa solidaritas, 25 Pendeta lainnya memberi sumbangan sukarela kepada Ibu Sukarni.

 Ternyata tak sampai disitu, saat hendak keluar dari tempat pengambilan bagasi, pihak travel dan koordinator tim dibuat pusing juga dengan terpisahnya salah satu Pendeta, yakni Pendeta Lisias Wompere, dari group tanpa pemberitahuan. Semua  sudut di ruang kedatangan ditelusuri bahkan sampai ke toilet, tak juga dijumpai.

 Pendeta Lisias baru ditemukan, setelah group keluar dari Bandara. Ternyata Pendeta Lisias sudah lebih dulu ke luar dari ruang kedatangan untuk merokok di luar. Hanya sayangnya tanpa memberitahukan yang lain, sehingga membuat seluruh anggota resah dan mencari ke semua sudut dalam terminal besar itu, dan hal ini membuat perjalanan sedikit terhambat.

 Koordinator Tim, Pendeta Soleman Marey, saat memberi arahan, berharap semua anggota tim saling menjaga kebersamaan, mentaati jadwal dan proses yang telah diatur oleh pihak travel, sehingga perjalanan ziarah rohani ke Israel bisa berjalan dengan baik, hingga tim kembali ke Indonesia.

 Keluar dari Bandara Queen Alia International Airport, group ini langsung naik Bus dan menuju Restoran China untuk makan siang. Restoran China sengaja dipilih, karena di sini ada nasi dan lauk pauk yang sesuai dengan selera orang Indonesia.

 Usai makan siang, group yang dipandu oleh seorang Yordania bernama Ahmad, tour guide lokal yang sangat fasih berbahasa Indonesia ini, langsung menuju ke objek pertama, yakni Gunung Nebo, sebagai situs bersejarah umat kristen yang mencatat dimana Nabi Musa dimakamkan.

 

Grup Pendeta Kota Jayapura, saat berada di Gunung Nebo, melihat Panorama ke arah Tanah Perjanjian, sebagian Laut Mati dan sebagian dari lembah Sungai Jordan.(yomo)

"Beruntung Cuaca Baik, Jadi Bisa Memandang Hingga ke Tanah Perjanjian"

 Dipandu oleh Jolitas Tour & Travel serta  guide lokal bernama Ahmad, grup Pendeta dari Kota Jayapura ini langsung menuju Gunung Nebo, melihat dari dekat jejak Nabi Musa yang diceritakan dalam Alkitab (Kitab Suci Agama Kristen).

Gunung Nebo terletak di bagian barat negara Jordan dan memiliki ketinggian sekitar 817 meter diatas permukaan laut ( 2.680 kaki ). Dari atas gunung ini kita dapat melihat Panorama ke arah Tanah Perjanjian, sebagian dari lembah Sungai Jordan serta salah satu kota di daerah Tepi Barat, yakni Jericho. Panorama ini umumnya dapat terlihat dengan baik bila cuaca tidak berkabut. 

Beruntung bagi grup ini, karena ketika tiba di gunung Nebo, cuaca cukup cerah, sehingga pemandangan ke tanah perjanjian, sungai Yordan, Laut Mati, Jerikho dan tempat-tempat lainnya bisa dilihat dengan jelas. " Lebih bagus lagi kalau ada hujan sedikit, itu bisa lihat dengan bersih dan jelas. Tapi di sini jarang sekali turun hujan," kata Ahmad.

Menurut Kitab Ulangan, Gunung Nebo merupakan tempat dimana Nabi Musa hanya dapat memandang ke arah Tanah Perjanjian karena Tuhan tidak mengizinkannya untuk masuk ke sana. "Naiklah ke atas pegunungan Abarim, ke atas gunung Nebo, yang di tanah Moab, di tentangan Yerikho, dan pandanglah tanah Kanaan yang Kuberikan kepada orang Israel menjadi miliknya, kemudian engkau akan mati di atas gunung yang akan kaunaiki itu, supaya engkau dikumpulkan kepada kaum leluhurmu, sama seperti Harun, kakakmu, sudah meninggal di gunung Hor dan dikumpulkan kepada kaum leluhurnya oleh sebab kamu telah berubah setia terhadap Aku di tengah-tengah orang Israel, dekat mata air Meriba di Kadesh di padang gurun Zin, dan oleh sebab kamu tidak menghormati kekudusan-Ku di tengah-tengah orang Israel. Engkau boleh melihat negeri itu terbentang di depanmu, tetapi tidak boleh masuk ke sana, ke negeri yang Kuberikan kepada orang Israel." (Ulangan 32 : 49-52)

Sesuai dengan tradisi Yahudi dan Kristen, Gunung Nebo merupakan tempat peristirahatan terakhir dari Nabi Musa. Dan dipercaya di tempat inilah Nabi Musa dikuburkan oleh Tuhan sendiri, walaupun sampai saat ini kuburan tersebut tidak ditemukan. Ada yang mempercayai juga bahwa dari tempat ini Nabi Musa diangkat ke surga oleh Tuhan.

Tepat di puncak Gunung Nebo ini kita  melihat Syagha, sisa dari Gereja dan Biara yang ditemukan kembali pada tahun 1933. Gereja ini aslinya dibangun pada pertengahan abad ke 4 untuk mengenang tempat kematian dari Nabi Musa. Model dari Gereja ini dirancang dengan gaya Basilika. Pada tahun 597 Gereja ini dibangun kembali serta diperbesar. Cerita mengenai Gereja di Gunung Nebo terdapat dalam catatan seorang peziarah wanita bernama Aetharia dari tahun 394. Terdapat 6 makam yang ditemukan di dalam gereja ini yang tertutup oleh lantai mosaik bergaya Bizantium yang indah.

Pada tanggal 19 Maret tahun 2000 Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II berkunjung ke tempat ini dalam rangkaian peziarahannya ke Tanah Perjanjian (Gunung Nebo merupakan salah satu situs Kristen yang penting di Jordania). Beliau menanam pohon zaitun di samping Gereja sebagai symbol perdamaian.

Di atas Gunung Nebo peziarah juga dapat melihat simbol tiang salib besar dari perunggu (yang dibuat oleh seniman Italia bernama Giovanni Fantoni). Simbol ini menandakan tiang dililit ular tembaga yang dibuat oleh Musa (bdk. Bilangan 21:4-9) serta juga sebagai simbol salib Yesus sebagai anak manusia yang harus ditinggikan : “Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:14).

Kisah tiang ular dari tembaga ini adalah dimana waktu zaman Nabi Musa para pengikutnya umat Israel yang dibawa keluar dari Mesir mereka menggerutu berkata “Mengapa kamu mempimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati dipadang gurun ini? Sebab disini tidak ada roti dan tidak ada air, dan akan makanan hambar ini kami telah muak”. Mereka tidak puas dan tidak mengucap syukur.

Sebab itu Tuhan kemudian memerintahkan ular-ular tedung untuk memagut umat Israel, sehingga sebagian dari mereka mengalami kematian. Kemudian umat Israel menyadari akan perbuatan dosanya, lalu mereka datang kepada Nabi Musa untuk meminta perlindungan. Nabi Musa pun berdoa kepada Tuhan dan Tuhan mendengarkan doanya, lalu Tuhan memerintahkan Musa untuk membangun tiang dengan ular tembaga.

Barangsiapa yang memandang ular tembaga tersebut maka mereka akan sembuh dan terhindar dari pagutan ular-ular dan menjadi selamat. Saat ini tiang ular tembaga yang aslinya sudah tidak ada, karena oleh Raja Hizkia telah ditebang dan dihancurkan, karena pada waktu itu kian lama tiang ular tembaga tersebut menjadi obyek penyembahan seperti disertai dengan bakaran korban, dan tiang ular tembaga itu pun diberi nama Nehustan. Jadi yang sekarang dilihat bukan tiang ular tembaga yang asli, melainkan karya dari seniman Italia.

Karena sohornya kisah Nabi Musa soal penyembuhan dengan membuat tiang ular tembaga, menjadikan simbol resmi keberadaan sebuah apotek. Simbol itu yang kini dipakai para apotek-apoteker yang ada sekarang mereka hampir semua menggunakan simbol ular tembaga dengan berbagai kreasi untuk logonya. Tentunya dengan menyamakan persepsi penyembuhan dengan simbol ular tembaga, harapan para apoteker sebagai penyedia obat-obatan dapat menyembuhkan segala penyakit pagi para penderita/pasien.

Setelah melihat jejak Nabi Musa di Gunung Nebo, kami melanjutkan perjalanan memasuki wilayah Israel. Sampai di perbatasan Israel, kami berpisah dengan Ahmad yang adalah warga Yordania. Dan setelah melalui pemeriksaan imigrasi yang berjalan dengan lancar, kami menggunakan bus yang berbeda,melanjutkan perjalanan menuju Kota Betlehem, tempat peristrahatan.

 

Doa Bapa Kami dalam bahas Biak, Papua



Terdapat juga doa Bapa Kami dalam Bahasa Biak dan Paniai

Setelah melalui perjalanan panjang dari Yordania, tepat pukul 19.00 waktu setempat, kami akhirnya tiba di Shepherds House Hotel, sebuah hotel mungil di pinggir Kota Betlehem. Dilanjutkan dengan makan malam bersama dan istirahat melepas lelah. Hari berikutnya, kami mulai melakukan ziarah rohani ke sejumlah tempat-tempat bersejarah di Yerusalem dan sekitarnya.

Tempat pertama yang kami tuju adalah Bukit Zaitun, yang berada sebelah timur kota Yerusalem yang terbentang sejajar dengan bukit Bait Suci, tetapi terpisah daripadanya dengan Lembah Kidron. Inilah Bukit Zaitun dengan 3 puncaknya.

 Bukit Zaitun disebut dalam Perjanjian Lama sebagai tempat ibadah (2 Sam 15:32), dan disinggung pula dalam kitab Yehezkiel (11:22-23) dan Zakharia (14:4). Bagi umat Kristen, bukit Zaitun sangat penting, sebab dari sinilah Yesus naik ke surga, di sinilah ia menyampaikan wejangan eskatologisnya dan di sinilah ia mengajarkan doa Bapa Kami.

 Yesus sering mengunjungi bukit ini untuk berdoa. Di Bukit Zaitun berdiri beberapa bangunan yang erat kaitannya dengan peristiwa-peristiwa dalam hidup Yesus. Kalau Yesus datang dari Galilea lewat Jerikho ke Jerusalem, maka biasanya Ia lewat lereng selatan Bukit Zaitun (Mat 20 : 29 – Mat 21:1). Bukit Zaitun juga adalah tempat dimana Yesus biasa menyendiri jika ia berada di Jerusalem dan mau berdoa kepada BapaNya (Yoh 7:53; 8,1).

 Setelah melihat tempat kenaikan Yesus, kami berjalan kaki sekitar 200 meter menuju Gereja Pater Noster. Gereja ini didirikan  berdasarkan tradisi bahwa di situlah Yesus mengajarkan doa Bapa Kami kepada para rasulNya. Tradisi ini didukung oleh Injil Lukas yang menempatkan doa itu langsung sesudah kunjungan Yesus di rumah Maria dan Marta (Luk 10:38, 11:4), yang menurut Injil Yohanes (11:1; 12:1) tinggal di Betania.

Gereja Pater Noster yang ada sekarang ini adalah gereja yang ketiga. Gereja yang pertama didirikan oleh Kaisar Konstantin pada awal abad ke 4. Tahun 614 dihancurkan oleh pasukan Persia. Pada abad ke-12 para Pejuang Salib membangun lagi sebuah gereja di tempat yang sama, namun ketika mereka meninggalkan Jerusalem, gereja ini dihancurkan oleh penguasa Islam, lalu tanahnya dijadikan milik mereka. Pada tahun 1868 tempat ini dibeli oleh soerang wanita bangsawan Perancis, Puteri Aurelia de Bossi. Gereja yang sekarang berdekatan dengan biara Suster Karmelit yang didirikan pada tahun 1875.

 Di tembok gang gereja dan biara ini dapat dibaca doa Bapa Kami dalam berbagai bahasa dari seluruh dunia, termasuk bahasa etnik dari setiap negara. Terdapat juga doa Bapa Kami dalam bahasa Indonesia,juga dari Papua ada Bahasa Biak, Paniai dan beberapa bahasa daerah di Indonesia.

 Setelah dari Gereja Pater Noster, kami menuruni lereng Bukit Zaitun dan melihat pekuburan Yahudi yang paling tua dan paling besar, dan paling mahal di seluruh dunia. Yang dikuburkan di sini bukan hanya orang Yahudi dari Jerusalem saja atau dari tempat-tempat lain di Tanah Suci, melainkan juga dari tempat-tempat lain di seluruh dunia.

 Hampir di setiap hati orang Yahudi, mereka ingin dikuburkan di kota suci Jerusalem. Hal ini disebabkan karena mereka percaya bahwa di tempat inilah akan berlangsung pengadilan terakhir setelah manusia bangkit dari alam maut. Menurut kata-kata Nabi Yoel : “Sebab sesungguhnya pada hari-hari itu, apabila Aku memulihkan keadaan Yehuda dan Jerusalem, Aku akan mengumpulkan segala bangsa dan akan membawa mereka ke Lembah Yosafat; Aku akan berperkara dengan mereka di sana mengenai umatKu dan milikKu sendiri, Israel” (Yoel 3:1-2).

 




Ketika berada di Taman Getsemani

 "Walau Berdesak-desakan Tak Menyurutkan Semangat Memasuki Taman Getsemani"

 Turun dari Bukit Zaitun, kita memasuki sebuah taman indah,  taman tersohor di seantero jagad raya ini, Taman Getsemani. Di taman inilah Yesus berdoa setelah makan perjamuan terakhir bersama muridNya. Dan di taman inilah Yesus menjalani masa terakhir kehidupanNya di dunia.

 Padatnya peziarah dari berbagai negara yang berdesak-desakan memasuki taman Getsemani, tak menyurutkan semangat 26 Pendeta dari Kota Jayapura ini untuk turut berdesak-desakan, masuk melalui sebuah pintu kecil ke taman Getsemani ini.

 Ke taman inilah Yesus pergi berdoa setelah makan Perjamuan Terakhir bersama muridNya. Dan di taman inilah Yesus menjalani masa terakhir kehidupanNya di dunia dan mengalami rasa takut yang luar biasa layaknya manusia biasa, namun Ia menerima dengan pasrah kehendak BapaNya di Surga untuk menderita dan mati di Salib untuk menanggung segala dosa umat manusia.


Dulu seluruh Getsemani dikelilingi tembok yang disusun dari batu-batu. Taman itu penuh dengan pohon-pohon zaitun. Ada pula sebuah gua yang dipakai untuk bermalam serta peralatan untuk memproduksi minyak. Pada malam menjelang wafatnya, Yesus memasuki Getsemani dan menyuruh para rasulnya menunggu di gua, katanya, “Duduklah di sini, sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa” (Mat 26:36).


Pada malam itu, Yesus mengalami sejenis sakratulmaut yang dahsyat. Ia berdoa : “Ya Bapa-ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi”(Luk 22:42). Peristiwa ini digambarkan di atas altar utama Gereja Getsemani. Karena sangat tertekan, Yesus didatangi seorang malaikat yang menguatkannya. Ia sangat menderita secara batin sehingga ia makin sungguh-sungguh berdoa. Keringatnya seperti darah menetes ke tanah (Luk 22:42-44).


Menurut laporan Eteria yang berziarah ke Tanah Suci pada abad IV, di kaki Bukit Sion sejak dahulu ada sebuah gereja di tempat Yesus berdoa. Gereja kedua berdiri di tempat adanya gua. Tidak jauh dari gua itu Yesus didatangi Yudas yang menciumnya. Sesudah itu Yesus ditangkap dan dibawa kepada Mahkamah Agama Yahudi. Pada saat ini di Taman Getsemani ada delapan pohon zaitun yang sudah sangat tua sekali.

 Diperkirakan umur delapan pohon ini sudah lebih dari 3000 tahun. Jadi dapat dipastikan bahwa pada saat Yesus berdoa menghadapi sakrat mautNya di Taman ini pada hari "Kamis Malam", pohon-pohon tersebut sudah ada disana dan menjadi saksi akan perstiwa tersebut.  Ke delapan pohon zaitun tersebut masih tetap berbuah sampai saat ini.

 Setelah mengitari taman Getsemani, kita memasuki sebuah basilika indah. Basilika ini dibangun di masa pemerintahan Kaisar Teodosius (379-395). Namun basilika itu paling dulu dihancurkan oleh tentara Persia. Pada waktu Perang Salib, di tempat itu dibangun sebuah gereja kecil demi penghormatan Juru Selamat Yang Mahakudus, tetapi gereja itu pun dirubuhkan oleh para musuh kekristenan.

 Akhirnya ibadah diadakan di gua yang sejak abad IV ditunjuk sebagai tempat Yudas mencium Yesus. Gereja yang dapat diziarahi sekarang, selesai didirikan menurut rancangan Antonio Barluzzi pada tahun 1924. Di tengah Basilika terdapat sebuah batu besar yang dinamakan “batu sakrat maut’. Batu ini dikelilingi oleh sebuah pagar besi yang rendah dalam bentuk lingkaran mahkota duri dan piala.

 Di atas batu inilah dalam sakrat mautNya Yesus berdoa kepada bapaNya sambil mengeluarkan keringat darah. Lantai basilica ini ditiru berdasarkan sisa mosaik yangditemukan dari zaman Kaisar Teodosius. Di tembok luar gereja sekarang dapat disaksikan sebuah mosaik karya G. Bargellini yang bertema Yesus menguduskan segala macam derita manusia.

 Kaca-kaca di dalam gereja berwarna ungu menciptakan suasana remang-remang yang mengundang orang untuk berdoa dan bermeditasi. Mosaik-mosaik bermotif bunga di langit-langit diciptakan oleh D. Archiardi; patung-patung oleh G. Tonnini, sedangkan hiasan-hiasan dari besi - oleh A. Gerardi.

 Yang patut diperhatikan secara khusus ialah mosaik di atas altar utama yang menggambarkan Yesus sedang mengalami sakratul mautnya. Mosaik ini dibiayai oleh umat dari Hungaria. Mosaik yang menggambarkan penangkapan Yesus dibiayai oleh para serdadu dari Polandia. Mosaik yang menggambarkan pengkhianatan Yudas dibiayai oleh umat Irlandia. Teralis besi di sekeliling Cadas Sakratulmaut dibiayai oleh umat Australia. Berbagai sumbangan berharga dipersembahkan oleh beberapa bangsa demi memperindah gereja ini, yaitu oleh Amerika, Jerman, Kanada, Belgia, Inggris, Meksiko, Chile, Brasilia, Argentina ( lambang negara-negara tersebut terdapat pada langit 12 kubah ). Justru karena sumbangan universal itu, gereja ini diberi nama Gereja Segala Bangsa.





Ketika berada di Yerusalem, bersama Polisi Israel


 Dari Getsemani, kami lanjutkan ziarah ke Kota Tua Jerusalem, Tembok Ratapan, Gereja St. Anna dan Kolam Bethesda, dimana Yesus menyembuhkan orang lumpuh (Yoh 5:1-18). Kemudian kita berkesempatan  untuk menyusuri Via Dolorosa yang berakhir di Gereja Makam Kudus (Yoh 19:16-27). Perjalanan hari itu ditutup dengan mengadakan perjamuan kudus di Kubur Kosong/ Garden Tomb (Yoh 19:41-42).

Hari berikutnya, kami mengunjungi Qumran, tempat ditemukannya gulungan kitab suci. Sore hari kami ke laut mati di sisi Israel, sambil bersantai dan mengapung di laut mati.

 Pagi hari, kita meninggalkan Jerusalem menuju Tarsis. Kita melewati dan melihat Caesarea, kota Romawi di pantai Mediterania untuk melihat Aquaduct. Lalu kita menuju ke Haifa, kota pelabuhan, dimana terdapat Gua Elia di Gereja Stella Maris di Gunung Karmel.

Setelah itu lanjut ke Nazareth tempat tinggal keluarga Joseph, Maria dan Yesus, serta melihat Gereja Kabar Gembira (Luk. 1:26-38). Lalu kita ke Kana tempat mujizat pertama Yesus mengubah air menjadi anggur (Yoh. 2:1-11). Misa Kudus untuk memperbaharui janji pernikahan bagi pasangan suami-istri.

 Bermalam di Nazareth, Pagi hari menuju Gunung Tabor tempat Yesus dipermuliakan dengan Nabi Musa dan Elia (Luk. 9:25-36) dan melihat Lembah Armagedon, Mt. Beatitude (Mat. 5:1-12), Tabgha yaitu tempat Yesus membuat mujizat menggandakan 5 roti dan 2 ikan untuk memberi makan 5.000 orang (Yoh. 6:1-5), Capernaum (Town of Jesus, Luk. 4:31-41). Setelah itu berlayar di Danau Galilea dengan perahu jaman Yesus (Mat. 8:2-27). Sore hari ke Yardenit yaitu tempat pembaptisan di Sungai Yordan (Mat. 3:3-17).




Ketika berada di areal Pekuburan Raja-Raja Mesir yang dikenal dengan sebutan Piramida

 

Setelah dari sungai Yordan, perjalanan dilanjutkan ke perbatasan Israel dan Mesir, meninggalkan Israel dan masuk ke wilayah Mesir, dan malam hari mendaki gunung sinai, tempat nabi Musa menerima 10 Hukum Tuhan. Diakhir tour, tim diajak berkeliling di areal Piramida Mesir serta sejumlah  situs bersejarah di Mesir, lalu malam hari ke Bandara untuk selanjutnya kembali ke tanah air.*)

 Oleh : Alberth Yomo

 

 

 

 

 

 

Comments

Popular posts from this blog

Mengunjungi Kampung Nadofuai Distrik Waropen Atas Kabupaten Mamberamo Raya ( Bagian-2)

Nampak anak-anak di kampung Nadofuai yang sudah mulai sekolah dengan baik, berharap masa depannya tidak sekelam orang tua mereka. Masyarakat di Kampung Nadofuai dahulu hidup berpindah-pindah tempat demi  mengisi perut dan bertahan hidup. Meskipun ketika itu mereka sudah berada dalam Pemerintahan Kabupaten Yapen Waropen dan Kabupaten Waropen, namun kebiasaan hidup berpindah-pindah masih tetap berlanjut. Laporan : Alberth Yomo Sebelum menjadi Kampung yang definitif pada tahun 1992, Nadofuai merupakan bagian dari Rukun Wilayah (RW) Kampung Barapasi. Dengan jarak kurang lebih 11 kilometer dari Kampung Barapasi yang merupakan Ibukota dari Distrik Waropen Atas, tentu sangat sulit mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten yang ketika itu hanya fokus pada Ibukota Distrik. Dalam situasi itu, tidak ada yang bisa mereka lakukan selain hanya hidup berburu binatang hutan, membuka lahan untuk berkebun,  pergi ke laut mencari ikan, mencari kepiting dan kerang sebagai sumber protein. ...

Yang Tercecer Dari Pameran Pariwisata Internasional di Berlin- Jerman ( Bagian-3)

Tim Tari asal pegunungan bintang yang dikenal dengan sebutan Murop Tabib, benar-benar membuat kejutan di stand Indonesia pada pembukaan pameran Pariwisata Internasional ITB-Berlin. Pukulan tifa, alunan suara yang khas serta tarian dari 10 penarinya, sekejap membuat hidup suasana di stand Indonesia, karena semua mata pengunjung yang berada disekitarnya mencari dan berdesak-desakkan untuk menyaksikan tarian ini. Laporan : Alberth Yomo- Berlin Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia, yang diwakili oleh Director of Internasional Tourism Promotion Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia, Nia Niscaya, mengaku kaget tapi juga merasakan kebahagiaan yang luar biasa, setelah melihat tarian adat yang dipersembahkan oleh para penari asal Pegunungan Bintang Papua, pada pembukaan  pameran Pariwisata Internasional ITB Berlin, yang berlangsung di Berlin, Jerman, Rabu(7/3)lalu. “ Ini surprise, saya tidak menduga Papua bisa hadir dalam iven sebesar ini, apalagi bisa menampilkan tarian ada...

Taria,antara Mamberamo Raya dan Mamberamo Tengah

Kampung Taria, secara geografis berjarak kurang lebih 200 KM arah barat daya dari Bandar udara sentani, yang dapat ditempuh dalam waktu kurang dari dua jam menggunakan pesawat jenis cesna, Pilatus hingga jenis Caravan. Sementara menggunakan transportasi air, dapat ditempuh dalam waktu 4- 6 hari perjalanan dari pelabuhan Jayapura, menggunakan kapal perintis dengan tujuan pelabuhan Trimuris atau Kasonaweja, Ibukota Kabupaten Mamberamo Raya. Setelah itu, dari Trimuris, menggunakan speed boad tujuan Dabra melalui sungai Mamberamo, dan selanjutnya dari Dabra menuju pelabuhan Taria bisa ditempuh dengan menggunakan perahu kole-kole yang digandeng dengan engine 15 PK atau mesin 10 PK ( ketinting ). Kampung ini telah ada sejak Pemerintahan Kabupaten Jayapura tahun 1997, namun masih merupakan suatu wilayah rukun wilayah dari Kampung Dabra, selanjutnya pada tahun 2001, menjadi bagian dari Kampung Fuao, setelah itu, pada tahun 2007 menjadi kampung sendiri dalam wilayah Pemerintahan Distri...